Edi Prasetyo

Tinggal di Purbalingga, Jawa Tengah. Lulusan IKIP Yogyakarta jurusan PMP-KN. Saat ini bertugas sebagai Kepala SMA Negeri 1 Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah....

Selengkapnya

Akankah Masjid Kami Kembali Sepi?

Semalam, seusai shalat Tarawih aku sempatkan berbincang sejenak dengan Kiai Durori, imam masjid kami. Wajahnya yang tampak murung, membuat aku ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada beliau.

"Apakah Pak Kiai agak kurang enak badan?" tanyaku sambil mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Kiai Durori.

"Tidak, Pak Guru. Saya baik-baik saja," jawab Kiai Durori sambil menyeka keringatnya.

"Tapi, saya lihat wajah Pak Kiai kali ini tampak murung. Bahkan setidaknya sejak lima hari ini," kataku seraya duduk di samping kirinya.

Kiai kharismatik di desaku itu tidak segera menjawab. Sekali lagi beliau menyeka keringatnya. Pandangannya diarahkan ke serambi masjid yang sudah kosong.

"Bagaimana tidak bersedih, Pak Guru? Pak Guru tahu sendiri kan bagaimana keadaan masjid kita ini di awal-awal bulan Ramadan?" ujarnya yang belum mau secara langsung menjawab pertanyaanku. Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala.

"Di awal-awal bulan Ramadan, masjid ini selalu ramai. Di saat shalat Tarawih, masjid hampir tak muat untuk menampung jamaah. Setiap saat, banyak warga yang berada di masjid untuk bertadarus ataupun beriktikaf. Tapi sejak lima hari yang lalu, Pak Guru tahu sendiri. Jamaah shalat Taraweh tak pernah lebih dari empat saf. Itu pun hampir semuanya merupakan orang yang sudah tua. Kemudian warga yang bertadarus tinggal tak lebih dari lima orang. Apakah keadaan ini tidak menyedihkan, Pak Guru?"

Berkali-kali aku menganggukkan kepalaku. Aku mulai memahami mengapa Pak Kiai belakangan ini tampak murung.

"Iya, Pak Kiai. Saya sendiri juga heran," ujarku lirih.

"Itulah, Pak Guru. Padahal, sesuai dengan kemampuan saya, saya sudah sangat sering menjelaskan kepada warga tentang keutamaan menjalankan ibadah di bulan Ramadan. Saya rasa, semuanya sudah sangat jelas dan sudah dipahami oleh warga. Namun mengapa banyak warga yang terkesan mengabaikannya?"

Sejenak Pak Kiai menghentikan kata-katanya. Sorot matanya yang tajam diarahkan kepadaku. Hanya sesaat aku sanggup menatap sorot matanya. Setelah itu aku kembali menunduk.

"Padahal, dengan bersemangatnya warga menjalankan ibadah di awal-awal bulan Ramadan, saya berharap semangat itu akan terus terjaga. Bahkan kalau bisa, seusai bulan Ramadan nanti masjid kita tetap akan ramai, Pak Guru. Tapi dengan keadaan yang seperti saat sekarang ini, sepertinya harapan saya tersebut tidak akan terwujud. Akankah masjid kita kembali sepi, Pak Guru?"

Aku hanya diam. Pikiranku menerawang ke keadaan masjid sebelum bulan Ramadan. Masjid di desa kami boleh dibilang sepi. Meski masjidnya cukup besar, namun aktivitas warga di masjid boleh dikatakan minim sekali. Saat shalat fardu, bahkan sering imam hanya diikuti oleh tak lebih dari sepuluh orang makmum. Warga yang menyempatkan beriktikaf maupun membaca Alquran di masjid, hampir tidak ada.

"Keadaan seperti ini memang sangat disayangkan, Pak Kiai. Terus apa yang mesti kita lakukan, Pak Kiai?"

Kudengar beberapa kali Kiai Durori menghela napas. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, Kiai Durori berkata.

"Taat menjalankan ibadah atau tidak, memang lebih merupakan pilihan hidup masing-masing orang, Pak Guru. Semampu saya, saya sudah melakukan dakwah. Dan itu akan terus saya lakukan. Sekarang kita tinggal berdoa, semoga Allah senantiasa memberikan kemurahan hidayah kepada warga agar tekun menjalankan berbagai amalan ibadah, termasuk memakmurkan masjid kita, Pak Guru," kata Kiai Durori sambil berdiri dan menyalamiku.

Kami berdua kemudian melangkah beriringan keluar masjid. Dalam hati kami berdoa, semoga masjid kami tak akan kembali sepi.[*]

Purbalingga, 13 Juni 2018.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali