Edi Prasetyo

Tinggal di Purbalingga, Jawa Tengah. Lulusan IKIP Yogyakarta jurusan PMP-KN. Saat ini bertugas sebagai Kepala SMA Negeri 1 Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah....

Selengkapnya
Ani Gadis Pemberani (Episode: Menggulung Komplotan Gatot, bagian ke-3)

Ani Gadis Pemberani (Episode: Menggulung Komplotan Gatot, bagian ke-3)

Akibat sepeda motornya bocor, Heru tak bisa menguntit Lukman sehingga ia kehilangan jejak. Di Gua Lawa, ia sama sekali tak bisa menemukan Lukman dan Ani. Dibawa kemanakah sebenarnya Ani oleh Lukman? Mampukah Heru menemukan Ani? Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Ani? Ikuti kelanjutan ceritanya berikut ini.

"Haruskah Ani celaka dan aku gagal menyelamatkan jiwanya?” tanya polisi itu pada diri sendiri sambil duduk bersandar di bawah pohon pinus. “Tidak! Ani tidak boleh celaka! Aku harus berhasil menemukannya dan kemudian menyelamatkannya. Bahkan aku pun harus bisa meringkus Lukman dan teman-temannya,” lanjutnya.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Di sebelah selatan Gua Lawa terdapat sebuah air terjun yang disebut Curug Nini. Meski pengunjung Gua Lawa jarang yang mau melanjutkan perjalanannya ke sana, karena jalannya memang terjal dan sangat berbahaya, namun orang-orang tertentu yang berjiwa petualang, seringkali justru menyukainya. “Bisa jadi Ani dibawa Lukman kesana,” pikirnya. Ia pun kemudian memutuskan untuk melanjutkan pencariannya ke Curug Nini dengan berjalan kaki.

Dengan perasaan cemas, Heru menapaki jalan yang terjal di lereng bukit. Beberapa kali kakinya terpeleset dan nyaris mengantarkannya ke dasar jurang yang curam. Meski ia seorang polisi, rasa takutnya muncul juga ketika melihat jurang menganga yang siap menerkamnya. Kendati demikian, keinginannya untuk bisa menyelamatkan nyawa Ani, pada akhirnya ternyata mampu juga mengatasi rasa takutnya. Dengan hati-hati sekali ia melangkahkan kakinya, setapak demi setapak, untuk menuju ke Curug Nini.

Setelah sekitar sepuluh menit ia menyusuri bibir jurang yang membuat jantungnya nyaris copot, sampailah ia ke tempat yang agak datar. Dari sela-sela pohon pinus ia dapat melihat dengan jelas Curug Nini yang terletak di seberang jurang. Air terjun setinggi sekitar seratus meter dengan butiran-butiran air putih keperakan yang ditumpahkan ke dasar jurang itu, benar-benar merupakan pemandangan alam yang sangat menakjubkan. Namun bagi Heru, hal itu justru semakin menambah kecemasannya. Ia tak dapat membayangkan, apa jadinya jika Ani sampai dilemparkan ke dasar jurang dan kemudian ditenggelamkan oleh buasnya air terjun itu.

Dalam keadaan seperti itu, ia mencoba memasang mata dan telinganya setajam mungkin, untuk melihat ataupun mendengarkan sesuatu yang sekiranya mencurigakan. Sejauh penglihatan dan pendengarannya, ia sama sekali tidak melihat ataupun mendengar sesuatu yang mencurigakan. Selain hutan pinus, jurang, air terjun, dan gemuruh air, ia sama sekali tidak melihat ataupun mendengar sesuatu. “Mungkinkah Ani dibawa ke tempat lain?” pikirnya. “Kalau ya, kemana? Ke Baturradenkah? Setelah mengetahui kalau ada orang yang menguntitnya, memang sangat mungkin Lukman lalu mengalihkan tujuannya yang semula ingin ke Gua Lawa menjadi ke tempat lain,” gumamnya.

Heru semakin cemas! “Jika perkiraanku benar, maka bisa-bisa Ani akan celaka. Rasanya aku tak mungkin bisa menolongnya,” pikirnya. Dalam kecemasan yang luar biasa itu, sayup-sayup ia mendengar teriakan seseorang yang meminta tolong dari arah hutan pinus. Ia mencoba mempertajam pendengarannya, untuk lebih meyakinkan dirinya apakah teriakan orang yang meminta tolong tadi benar-benar teriakan orang atau hanya ilusinya. Ternyata benar! Teriakan itu memang suara orang. Heru bahkan merasa yakin, kalau orang yang berteriak itu seorang perempuan. Karena itu, ia kemudian bergegas menuju ke arah datangnya teriakan itu. Semakin jauh ia melangkah, semakin jelas suara teriakan itu.

“Berteriaklah sekuat tenagamu sampai suaramu habis, Ani! Tak mungkin ada orang yang akan mendengar dan menolongmu!” terdengar suara seorang laki-laki.

Heru terperanjat! Jantungnya berdebar kencang. Ternyata orang yang berteriak minta tolong tadi adalah Ani. Dari jarak sekitar lima belas meter, ia melihat gadis itu tengah meronta-ronta di bibir jurang. Kedua tangannya dipegangi oleh dua orang-laki-laki bertubuh kekar. Dua orang lainnya, yang seorang bertubuh kekar dan berkepala plontos, dan yang satunya lagi bertubuh kurus dan berambut gondrong, tengah berdiri sambil tertawa terkekeh-kekeh, hanya sekitar lima langkah di depan Ani. Seorang lagi yang tengah duduk terpisah, tampak tengah menenggak minuman. “Laki-laki berjaket kulit hitam itu tentu Lukman,” pikir Heru.

“Ayo, Ani! Berteriaklah sepuasmu, sebelum tubuhmu kami lempar ke dasar jurang!” ujar laki-laki gundul yang tengah berdiri itu.

“Kamu memang biadab, Gatot!” ujar Ani geram. “Apa sebenarnya salahku sehingga aku kalian perlakukan seperti ini?” lanjutnya.

Laki-laki yang dipanggil Gatot itu kemudian tertawa terbahak-bahak sambil melangkah mendekati Ani. Sesaat kemudian dihisapnya rokok yang sejak tadi terselip di jari kirinya. Asap yang telah terkumpul di dalam mulutnya kemudian dikepulkannya ke muka Ani. Ia kemudian kembali tertawa.

“Kamu jangan berpura-pura bodoh, Ani!” ujarnya. “Apakah tindakanmu menyemprotkan cairan cabe ke mataku sehingga Lastri dengan mudah menendang selangkanganku bukan suatu kesalahan besar, Ani?”

“Itu aku lakukan semata-mata untuk membela diri, Gatot!”

“Mungkin benar, tindakanmu hanya untuk membela diri. Tapi sadarkah kamu, bahwa tindakanmu itu telah membuatku begitu terhina? Ketahuilah Ani, bahwa selama hidupku, baru sekali itulah aku dibuat tidak berdaya oleh perempuan. Semua itu terjadi karena tindakanmu, Ani. Jadi wajar saja kan, kalau aku kemudian merasa perlu untuk membuat perhitungan denganmu?” kata Gatot.

“Ya! Tapi mestinya tidak dengan cara seperti ini. Jika keinginanmu memang untuk membuat perhitungan denganku, bukankah akan lebih baik jika kita berduel saja sampai salah seorang di antara kita mati? Itu lebih terhormat, Gatot!” tantang Ani mencoba memanaskan hati Gatot.

“Berduel?” Gatot tertawa. “Itu ide yang bagus, Ani. Aku memang suka berduel. Kalau saja aku sampai mati karena berduel, aku akan merasa terhormat. Tapi itu hanya mungkin terjadi jika lawanku seimbang. Namun jika lawanku perempuan seperti kamu, aku mesti pikir-pikir. Kalau pun aku menang, namaku tetap tak bakal kondang. Tapi kalau aku kalah, tak tahu lagi harus aku kemanakan mukaku ini.”

“Kamu memang pengecut, Gatot! Masa kesalahanku yang sekecil itu akan kamu balas dengan cara melemparkan diriku ke dasar jurang?”

“Kesalahanmu bukan hanya itu, Ani. Satu kesalahanmu lagi, yang jauh lebih besar daripada itu adalah, karena kamu telah membuat penghasilanku jauh menurun karena kamu telah menjauhkan Lastri, Diana, Nunik, dan Santi dariku. Sedangkan kesalahanmu yang terakhir, dan ini yang tidak bisa aku maafkan, karena kamu telah mengetahui siapa aku sesungguhnya. Karena itu, hanya ada satu jalan penyelesaiannya. Kamu harus mati!”

Bersambung....

Purbalingga, 15 April 2018.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali