Edi Prasetyo

Tinggal di Purbalingga, Jawa Tengah. Lulusan IKIP Yogyakarta jurusan PMP-KN. Saat ini bertugas sebagai Kepala SMA Negeri 1 Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah....

Selengkapnya
Ani Gadis Pemberani (Episode: Menggulung Komplotan Gatot, bagian ke-4)

Ani Gadis Pemberani (Episode: Menggulung Komplotan Gatot, bagian ke-4)

Setelah melewati tebing yang terjal, akhirnya Heru berhasil mengetahui keberadaan Ani. Di hutan pinus di Curug Nini, Heru melihat Ani yang sedang meronta-ronta. Kedua tangannya sedang dipegangi oleh dua orang anak buah Gatot yang telah siap melemparkannya ke dasar jurang. Sementara Gatot tengah memberi penjelasan kepada Ani mengapa mereka sampai melakukan hal tersebut. Apa yang akan dilakukan Heru untuk menolong Ani yang sedang dalam bahaya? Apakah Heru mampu menolong gadis itu? Ikuti saja kelanjutan ceritanya.

"Kamu memang biadab, Gatot!” teriak Ani.

“Terserah apa katamu, Ani! Harap kamu ketahui saja, bahwa nyawamu ditentukan oleh rokok di tanganku ini. Begitu rokok di tanganku ini selesai aku hisap, aku akan segera melemparkan puntungnya, dan kemudian kedua temanku ini akan langsung melemparkan tubuhmu ke dasar jurang. Setelah itu kami akan segera pergi dari tempat ini tanpa peduli terhadap keadaan dirimu.”

Ani menggigil. Rokok di tangan Gatot tinggal sekitar tiga senti lagi. Mungkin dua atau tiga kali hisapan lagi, Gatot akan segera membuang puntungnya. “Haruskah aku mati sia-sia ke dasar jurang? Ke manakah mas Heru yang tadi mengikutiku? Bukankah seharusnya ia sudah berada di sini sejak tadi? Haruskah aku menanggung risiko seperti yang dikhawatirkan oleh bapak, ibu, dan kakekku? Tidak! Aku tidak boleh mati! Apa pun yang terjadi, aku harus berusaha lepas dari tangan bajingan-bajingan ini!” kata Ani dalam hati.

Ani kembali meronta-ronta. Matanya terus menatap tajam ke arah rokok di tangan Gatot. Dua kali sudah Gatot menghisapnya kembali. Dan kali ini, ia tampak menghisapnya lagi untuk yang ketiga kalinya. Kali ini hisapannya cukup lama. Beberapa kali ia memicingkan mata. Mungkin ia tengah memberi isyarat kepada anak buahnya, bahwa itu merupakan hisapannya yang terakhir. Ani semakin menggigil. Sebentar lagi ia akan segera mereka lempar ke dasar jurang.

Ternyata benar! Setelah itu Gatot langsung melemparkan puntung rokok dari tangannya. Tapi tiba-tiba...,

Dor! Heru menembakkan peluru ke udara sebagai peringatan kepada Gatot dan komplotannya. Gatot yang kaget tampak tersedak oleh asap rokok yang belum juga ia kepulkan dari mulutnya. Kedua orang anak buahnya yang telah siap melemparkan tubuh Ani ke dasar jurang, tampak terperangah melihat kedatangan Heru yang sama sekali tidak meraka duga. Lukman yang masih saja duduk sambil menenggak minuman keras, tampak begitu panik. Sementara Ani yang sudah pasrah terhadap nasib, begitu gembira melihat kedatangan Heru.

“Urungkan niat kalian untuk melemparkan Ani, jika kalian tidak ingin mati tertembus timah panas dari pistolku ini!” gertak Heru seraya melangkah mendekati Gatot dan kawan-kawan.

“Siapa kamu?” tanya Gatot menggertak.

“Aku seorang polisi yang telah siap meringkus kalian semua!”

“Meringkus kami?” Gatot tertawa terbahak-bahak. “Tidak mudah bagi seseorang untuk bisa meringkus kami. Apalagi hanya orang sepertimu! Ingat, meski kamu membawa pistol, kami semua sama sekali tidak merasa gentar. Jangankan sampai kamu menembak kami, selangkah saja kamu mencoba mendekati kami, maka kami akan segera melemparkan gadis ini ke dasar jurang. Kalau kamu sayang pada nyawa gadis ini, turuti perintahku! Lemparkan pistolmu ke arahku! Setelah itu, kami akan mengurungkan niat kami, dan kami akan segera pergi meninggalkan kalian. Jika kamu tetap tidak mau menuruti perintahku, atau bahkan nekat menembak kami, maka bersamaan dengan tembakanmu nanti, tubuh gadis ini akan melayang dan segera terhempas ke dasar jurang. Kami sama sekali tidak akan ragu untuk melakukannya, meskipun risikonya kami pun harus mati diterjang pelurumu. Itu sudah janji kami!”

Heru tak mau mengambil risiko. Dua orang anak buah Gatot benar-benar sudah siap melemparkan tubuh Ani. Ia tak ingin hal itu sampai terjadi. “Apa pun yang terjadi, nyawa Ani harus tetap bisa diselamatkan,” pikirnya.

“Aku akan melemparkan pistolku ke arahmu, Gatot. Tapi aku minta, segera urungkan niat kalian untuk menghempaskan Ani ke dasar jurang!” ujar Heru.

“Tawaranmu sungguh menarik, Pak Polisi,” ujar Gatot. “Kuakui kami memang bajingan. Tapi kami tak pernah mengingkari kesepakatan. Ayo, cepat lemparkan pistolmu!”

Heru bermaksud hendak menuruti permintaan Gatot ketika tiba-tiba Ani mencegahnya.

“Jangan turuti perintahnya, Mas Heru! Mereka semua bukanlah orang baik-baik! Kata-katanya sama sekali tak bisa dipegang. Jangan hiraukan keselamatan Ani. Lakukan saja apa yang menurut Mas Heru baik. Jangan sekali-sekali Mas Heru menyerahkan pistol kepadanya!”

Heru tampak ragu mendengar kata-kata Ani. Kedua matanya menatap tajam ke arah Ani.

“Jangan khawatirkan aku, Mas Heru! Kalaupun aku harus mati di dasar jurang, itu sudah takdirku. Aku tak mungkin bisa lari dari takdir. Tapi aku minta, sebagai seorang polisi jangan sekali-sekali Mas Heru sampai menyerahkan pistol kepada penjahat! Itu pantangan!” kata Ani lantang.

Heru tercengang! Sama sekali ia tidak menyangka kalau Ani masih bisa berkata selantang itu. Padahal, bisa jadi nyawanya sebentar lagi akan melayang. “Ani benar. Aku memang tidak boleh menyerahkan pistolku kepada penjahat. Itu sudah merupakan sumpahku sebagai seorang anggota polisi. Tapi, bukankah nyawa Ani jauh lebih penting daripada pistolku?” Heru tampak ragu.

Sekali lagi Heru menatap tajam wajah Ani. Di wajah gadis itu, ia menemukan keberanian yang luar biasa dari seorang gadis yang belum pernah ia jumpai sebelumnya. Ia harus memilih satu di antara dua. Menuruti kata-kata Ani atau menuruti perintah Gatot. Keduanya sama-sama berisiko. Jika ia menuruti kata-kata Ani, anak buah Gatot akan segera melempar tubuh Ani ke dasar jurang. Jika ia menuruti perintah Gatot, tetap tidak ada jaminan kalau Gatot akan mengurungkan niatnya. Mungkin benar kata Ani. Mereka semua bukan orang baik-baik, sehingga kata-katanya tak bisa dipegang!

Akhirnya Heru mengambil keputusan. Dengan perlahan, ia lemparkan pistolnya ke arah Gatot. Hanya kira-kira satu langkah saja di depan Gatot. Gatot langsung jongkok hendak mengambil pistol itu sambil berteriak. “Lempar!”

Bersambung....

Sokaraja, 16 April 2018.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Semakin menegangkan.....ditunggu kelanjutannya

16 Apr
Balas

Tunggu saja kelanjutannya besok, Bu.

16 Apr

Waduuh....menegangkan sekali. Besok beneran disambung ...njih Pak. Jangan kami yang disuruh nyambung kayak tempo hari...hehehe. Luar biasa. Baarakallah...Pak Detektif.

16 Apr
Balas

Iya, ditunggu saja Bu. Jangan lupa utk membacanya.

16 Apr

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali