Edi Prasetyo

Tinggal di Purbalingga, Jawa Tengah. Lulusan IKIP Yogyakarta jurusan PMP-KN. Saat ini bertugas sebagai Kepala SMA Negeri 1 Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah....

Selengkapnya
Banjir SKTM, Panitia PPDB Puyeng!

Banjir SKTM, Panitia PPDB Puyeng!

Selain demam Piala Dunia, saat ini "demam SKTM" sedang melanda Jawa Tengah! Ya, SKTM yang merupakan kependekan dari Surat Keterangan Tidak Mampu, sedang banyak diburu oleh masyarakat, khususnya orang tua calon peserta didik baru SMAN atau SMKN. Entah bagaimana caranya, mereka banyak yang ingin memilikinya. Tujuannya hanya satu: agar anaknya bisa diterima di SMAN ataupun SMKN saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) kali ini.

Karena itu, PPDB kali ini benar-benar tak berbeda dengan PD (Piala Dunia)! Masing-masing ingin lolos ke babak selanjutnya. Akibatnya, Panitia PPDB yang Puyeng! Pusing! Masa sih dari seluruh calon peserta didik baru yang mendaftar, lebih dari separohnya merupakan anak orang miskin? Bahkan di Banyumas, ada SMAN yang akan menerima 360 peserta didik baru, ternyata 224 pendaftar di antaranya menyertakan SKTM! Kalau sudah begini, wajar saja kan kalau panitia PPDB pusing?

Aturannya memang begitu! Anak orang miskin mendapat prioritas pertama untuk bisa diterima di SMAN maupun SMKN. Tak peduli berapapun nilai Ujian Nasional SMP/MTs-nya. Kebijakan ini memang bertujuan baik: jangan sampai ada anak orang miskin yang tidak bersekolah. Tapi ternyata, efek dari kebijakan ini benar-benar luar biasa! Demi mengejar target agar anaknya bisa diterima di SMAN atau SMKN, banyak orang tua yang kemudian memiskinkan diri.

Tindakan culas sebagian orang tua calon peserta didik baru seperti ini, memang sudah diantisipasi. Dalam Petunjuk Teknis PPDB, secara tegas sudah dinyatakan bahwa jika terbukti SKTM yang dimiliki calon peserta didik baru ternyata tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, maka sekolah bisa mengeluarkan siswa tersebut dari sekolah.

Untuk memperkuat ketentuan yang ada dalam Juknis PPDB tersebut, Kepala Dinas Pendidikan juga telah menginstruksikan kepada semua kepala SMAN dan SMKN agar menindak tegas orang-orang yang bertindak curang seperti itu. Menindaklanjuti instruksi tersebut, ada beberapa sekolah yang kemudian mengambil langkah yang dipandang tepat. Ada yang memasang spanduk peringatan agar orang tua yang ekonominya mampu tidak meminta SKTM. Ada yang menggandeng pihak lain untuk melakukan verifikasi terhadap keabsahan SKTM. Ada pula yang melangkah dengan caranya sendiri.

Namun sejauh ini, hasilnya tetap belum signifikan. Meski ada orang tua calon peserta didik baru yang kemudian mencabut SKTM-nya, namun jumlahnya masih sangat sedikit.

Disadari atau tidak, tindakan orang tua yang sebenarnya mampu tapi tetap meminta SKTM ini, selain menciderai PPDB juga jelas-jelas sangat bertentangan dengan Penguatan Pendidikan Karakter yang tengah dibangun di sekolah. Mau berkarakter seperti apa peserta didik nantinya jika ketika masuk sekolah sudah diawali dengan kebohongan orang tuanya?

Tentu saja, ini merupakan salah satu dampak serius dalam PPDB kali ini, yang harus benar-benar dipahami oleh semua pihak. Jangan dikira tindakan curang orang tua tersebut cukup diatasi dengan mengeluarkan anaknya dari sekolah. Jika hal itu sampai dilakukan, dampak psikologis bagi peserta didik yang dikeluarkan dari sekolah, jelas sangat luar biasa. Anak itu bisa stres! Begitu pula orang tuanya!

Karena itu, pemerintah perlu segera melakukan evaluasi terhadap sistem PPDB yang berlaku saat ini. Anak orang miskin memang harus difasilitasi agar bisa bersekolah, tapi sedapat mungkin tak sampai menimbulkan efek negatif.[*]

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Segala sesuatu ada efek positif dan negatifnya njih pak?Sedapat mungkin meminimalisir efek negatifnya.

05 Jul
Balas

Betul, Bu.

05 Jul

Rupanya banner yang dipajang panitia belum dipahami orang tua pak. Terlalu halus bahasanya hehehe ....

05 Jul
Balas

Iya, ya Pak? Perlu lebih tegas lagi.

05 Jul

Hehe... SKTM

05 Jul
Balas

Sdg musim, Bu Nia.

05 Jul

Memprihatinkan hal ini. Sekolah favorit bisa menurun prestasinya. Menurut saya pakai SKTM boleh tapi bobot nilai diperhitungkan.

05 Jul
Balas

Mudah2an ke depan, sistem PPDB seperti ini akan dievaluasi ya Bu.

05 Jul

Mengawal anak dari SMP untuk memperoleh nilai bagus tidaklah mudah selain orang tua harus perhatian serius, kadang harus mengeluarkan biaya BIMBEL kenapa sekarang ini kalah dengan SKTM 1 hari jadi.Kalau memang Pemerintah mau membantu saudara kita yg kurang mampu itu bagus tapi semestinya diberikan kuoata /jatah kursi disetiap sekolah.

05 Jul
Balas

Ya, Pak. Semoga akan ada evaluasi dari pihak berwenang.

05 Jul

Mengawal anak dari SMP untuk memperoleh nilai bagus tidaklah mudah selain orang tua harus perhatian serius, kadang harus mengeluarkan biaya BIMBEL kenapa sekarang ini kalah dengan SKTM 1 hari jadi.Kalau memang Pemerintah mau membantu saudara kita yg kurang mampu itu bagus tapi semestinya diberikan kuoata /jatah kursi disetiap sekolah.Saya merasa prihatin dengan peristiwa ini

05 Jul
Balas

Ya, Pak. Cukup banyak anak dan ortu yg kecewa, bahkan sampai menangis.

05 Jul

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali