Edi Prasetyo

Tinggal di Purbalingga, Jawa Tengah. Lulusan IKIP Yogyakarta jurusan PMP-KN. Saat ini bertugas sebagai Kepala SMA Negeri 1 Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah....

Selengkapnya

Berani Membuka Aibku, Aku Tembak Kepalamu!

Entah sudah berapa kali saja ia mengatakan kepadaku. Setiap kali berjumpa denganku, atau saat menelponku, ia hampir selalu mengeluarkan kata-kata yang bernada ancaman kepadaku.

"Kalau sampai kamu berani membuka aibku, akan aku tembak kepalamu! Ingat kata-kataku ini, Wan!" Begitulah temanku Misto mengatakannya kepadaku. Aku pun hanya mengangguk.

Memang sangat wajar ia mengatakan hal itu kepadaku. Aku memang mengetahui banyak hal tentang rahasia dirinya, terutama yang terkait dengan wanita simpanannya. Tapi mengapa ia harus mengancamku seperti itu? Apalagi dengan ancaman akan menembak kepalaku segala. Memangnya dia punya pistol?

Selama ini, aku memang tak pernah membuka aibnya kepada siapa pun, termasuk kepada istrinya. Bukan karena aku takut kepada ancamannya. Sama sekali tidak! Tapi karena aku benar-benar takut kepada ancaman Allah. "Barang siapa membuka aib orang lain, maka Aku (Allah) akan membuka aibnya." Begitulah kata-kata kiai yang pernah aku dengar saat mengikuti pengajian. Dan aku memang merasa, bahwa aku juga memiliki aib yang aku sendiri tidak suka jika sampai ada orang lain yang mengetahuinya.

Karena itulah, setiap istrinya menanyakan hal yang menyangkut aibnya, aku tak pernah menjawab dengan jujur kepadanya.

"Sejak beberapa waktu belakangan ini, aku merasakan sikap dingin suamiku kepadaku," ujar Wati, istri Misto kepadaku suatu saat. "Apa mungkin Mas Misto memiliki wanita simpanan ya, Wan?" lanjutnya.

"Apa yang kamu tanyakan itu menyangkut soal aib, Wati. Setiap orang tentu akan berusaha untuk menutupi aibnya. Seandainya suamimu memiliki aib, tentu juga tak mungkin akan memberitahukannya kepada siapa pun, termasuk kepadaku," jawabku diplomatis.

Wati terdiam. Aku tak tahu pasti, ia mengetahui atau tidak kalau aku berbohong kepadanya. Namun sesaat kemudian ia melanjutkan kata-katanya.

"Jadi, menurutmu aku harus bagaimana, Wan?" tanyanya.

Sejenak aku menghela napas. Aku sedang mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaannya. Aku tak ingin salah ucap yang bisa membuat kehidupan keluarganya terancam. Setelah aku menemukan kata-kata yang menurutku tepat, aku kemudian berkata.

"Jika kamu memang mempunyai dugaan kalau suaminu memiliki wanita simpanan, sebaiknya kamu berusaha menyelidikinya sendiri, Wati. Dengan memeriksa bekas percakapan telepon atau chat WA di hp suamimu misalnya, kamu akan bisa menemukan jejak perilakunya. Selain itu, bisa pula kamu mengawasi ke mana saja suamimu saat pergi meninggalkanmu. Dengan cara seperti itu, kamu akan bisa menemukan jawaban atas kecurigaanmu kepada suamimu selama ini," jawabku memberi saran.

Aku lihat Wati mengangguk. Aku rasa ia telah memahami kata-kataku dan akan menjalankan saranku. Namun selain aku memberi saran seperti itu kepada Wati, aku juga memberi saran dan peringatan kepada Misto. Aku katakan kepada sahabatku itu, bahwa istrinya sedang melakukan penyelidikan terhadap perilaku gilanya. Aku meminta kepada Misto untuk menghentikan aksi gilanya itu dan segera bertobat kepada-Nya. Sebab jika tidak segera dihentikan dan bertobat, cepat atau lambat istrinya tentu akan mengetahui perilaku buruknya. Jika itu sampai terjadi, tentu akan bisa menghancurkan rumah tangganya.

Alhamdulillah Misto mau menuruti kata-kataku. Ia langsung menghentikan perbuatan buruknya dan segera bertobat kepada-Nya sebelum istrinya mengetahuinya. Aku sungguh sangat bersyukur, sampai saat ini keutuhan rumah tangga Misto dan Wati masih tetap terjaga. Bahkan kulihat keduanya sudah semakin mesra dan sudah menambah satu anak lagi. Sampai sekarang aku tetap bisa menjaga aib temanku itu, dan kepalaku juga masih utuh tak tertembus peluru sebagaimana yang sering diancamkan oleh temanku itu. [*]

Purbalingga, 9 Juni 2018.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Hebat!, bisa menyadarkan sahabat dan menyelamatkan rumah tangga sahabat,

10 Jun
Balas

Sedapat mungkin memang harus seperti itu, Bu.

10 Jun

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali