Edi Prasetyo

Tinggal di Purbalingga, Jawa Tengah. Lulusan IKIP Yogyakarta jurusan PMP-KN. Saat ini bertugas sebagai Kepala SMA Negeri 1 Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah....

Selengkapnya

Berapa Uang yang Anda Belanjakan untuk Lebaran?

Lebaran di Indonesia memang luar biasa! Untuk merayakannya, orang rela menghabiskan dana yang begitu banyak, yang bisa jadi telah dikumpulkan sejak setahun sebelumnya. Masyarakat urban, merasa wajib untuk mudik. Selain ingin bersilaturahim dan meminta maaf kepada orang tua, kerabat dan teman-teman di daerah asal, tak jarang di antara mereka juga ingin menunjukkan bukti kesuksesannya di kota.

Karena mudik pula, semua moda transportasi, baik darat, laut, maupun udara, tiketnya sudah habis terjual sejak dua-tiga bulan sebelumnya. Bandara, stasiun, pelabuhan, terminal bus, semua penuh dengan orang dan aneka barang bawaannya. Jalan raya, termasuk jalan tol, penuh dengan kendaraan yang umumnya milik pemudik. Pihak aparat keamanan, mau tidak mau harus mengerahkan semua personalnya untuk mengatur kelancaran dan menjaga keamanannya..

Selain itu, semua pasar, baik tradisional maupun moderen selalu berjubel. Masyarakat ingin membeli pakaian, makanan, atau apa saja yang dianggap perlu diadakan untuk berlebaran. Begitu pun objek-objek wisata, semuanya dibanjiri pengunjung. Coba, objek wisata mana yang sepi pengunjung?

Untuk menunjang "kelancaran" lebaran, pemerintah harus turun tangan. Selain memberi THR kepada PNS yang entah menghabiskan dana berapa triliun, pemerintah juga mengatur dan mengawasi pemberian THR untuk karyawan swasta. Begitu pula penyediaan barang-barang kebutuhan pokok masyarakat, selalu dikontrol ketersediaannya maupun diawasi mutunya.

Rasanya tak mungkin saya bisa menggambarkan semua hiruk-pikuknya aktivitas masyarakat dalam berlebaran. Satu hal yang menjadi catatan saya, meski saya tak punya data akurat, namun yang jelas untuk merayakan hari raya Idul Fitri atau lebaran, baik masyarakat maupun pemerintah dan pengusaha swasta, harus mengeluarkan dana yang begitu banyak.

Idul Fitri memang harus dirayakan. Namun perayaan yang sampai menimbulkan berbagai aktivitas masyarakat yang sampai harus menghabiskan dana yang begitu banyak, tentu sangat layak untuk dikaji. Kajian secara menyeluruh, baik dari aspek sosial, budaya, ekonomi, politik, bahkan keamanan maupun lainnya, tentu sangat menarik untuk dilakukan oleh para pakar.

Banyak orang berharap, agar perayaan Idul Fitri atau lebaran tak harus dengan cara-cara yang terkesan menghambur-hamburkan uang. Tapi bagaimana caranya? Bisa saja sebagian masyarakat akan nyeletuk, "Ini setahun sekali, Bung!" O, begitu? Terus, berapa uang yang telah Anda belanjakan untuk lebaran?[*]

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Lha kula dereng saged mundhut THR je ...

09 Jun
Balas

Lha kepripun si? Napa dereng dipun bagi? Melas temen. Mugi2 mbenjang Senen cair, Pak.

09 Jun

Ya jika memang mampu ditambah pak dananya

09 Jun
Balas

Hehehe... kalau ditambah, tentu pada senang ya, Pak?

09 Jun

Setuju pak eko, ini hanya ada di indonesia hehe

09 Jun
Balas

Saya kira memang begitu, Bu Imelda. Tapi saya pak Edi bukan Pak Eko...hehe...

09 Jun

wah pak saya menghitungnya suka kepikiran, yang penting saat ada keperluan tercukupi saja

09 Jun
Balas

Ya, Pak. Seperlunya saja, tak usah berlebihan.

09 Jun

Sebenarnya mungkin bukan bermaksud menghambur-hamburkan pak..cuma ingin berbagi dengan sanak saudara..

09 Jun
Balas

Mungkin saja begitu, namun yang tidak berbagi banyak juga sih. Untuk evaluasi diri saja.

09 Jun

Memang harus ada remnya...njih pak. Kalau tidak, ya kebablasan...hehehe. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah...pak kepala sekolah.

09 Jun
Balas

Iya, Bu. Sifat konsumtif hrs dicegah. Salam sehat dan sukses juga, Bu.

09 Jun

Makna puasa jd tdk jelas. Sebulan menahan nafsu diakhiri dg menghamburkan nafsu duniawi.

09 Jun
Balas

Nah, itulah Pak. Bahkan bisa saja ada orang yg tdk berpuasa tapi sangat bersemangat merayakan lebaran.

09 Jun

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali