Edi Prasetyo

Tinggal di Purbalingga, Jawa Tengah. Lulusan IKIP Yogyakarta jurusan PMP-KN. Saat ini bertugas sebagai Kepala SMA Negeri 1 Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah....

Selengkapnya
Berlomba Menjadi Orang Miskin

Berlomba Menjadi Orang Miskin

Menjadi orang miskin, tentu tidak enak. Namun semenjak pemerintah memberi perhatian yang cukup besar kepada orang miskin, ternyata tak sedikit orang yang seolah berlomba untuk mengejar status miskin. Alasannya: mereka ingin mendapatkan berbagai fasilitas yang diberikan pemerintah untuk warga miskin.

Dengan menyandang status miskin, orang akan bisa mendapatkan pembagian beras untuk warga miskin (raskin); bisa memperoleh pelayanan kesehatan gratis; bisa memperoleh pelayanan pendidikan dengan mudah dan gratis; dan lain sebagainya. Adanya berbagai fasilitas yang diberikan oleh pemerintah tersebut, tak sedikit orang yang kemudian tertarik untuk bisa menikmatinya.

Padahal, perhatian yang diberikan pemerintah untuk warga miskin tersebut, sejatinya merupakan upaya pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan yang merupakan tanggung jawabnya sebagaimana diamanatkan UUD 1945. Didorong oleh tanggung jawabnya tersebut, pemerintah mengharapkan agar meski miskin, mereka tetap bisa menikmati hidup secara layak.

Tapi, niat baik pemerintah tersebut, ternyata kadang ditangkap secara keliru oleh sebagian oknum masyarakat yang mentalnya lemah. Dengan tak malu-malu, mereka kemudian rela dan bahkan berusaha untuk mendapatkan status miskin. Ironis, bukan?

Selain demi mengejar berbagai fasilitas pemerintah untuk warga miskin, upaya sebagian warga masyarakat untuk "memiskinkan diri" dapat kita jumpai di berbagai tempat. Lebih-lebih di bulan Ramadan ini, di saat masyarakat banyak yang berlomba untuk bersedekah, mereka banyak yang kemudian menjadikan dirinya sebagai pengemis dengan harapan akan banyak memperoleh uang dari masyarakat yang bersedekah.

Menjelang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMAN yang akan datang pun, banyak orang yang memprediksi akan cukup banyak warga masyarakat yang berusaha mengejar status miskin. Mengapa? Karena sistem PPDB SMAN yang akan datang memang memberikan kemudahan bagi masyarakat miskin untuk mendapatkan sekolah. Asal berstatus miskin, yang cukup dibuktikan dengan Surat Keterangan Tidak Mampu yang dikeluarkan oleh desa/kelurahan, maka berapa pun nilai UN SMP/MTs anaknya, akan dengan mudah anaknya diterima di SMAN.

Ketentuannya memang seperti itu. Dan dengan ketentuan seperti itu, maka akan bisa terjadi anak pandai lulusan SMP/MTs yang nilai UN-nya tinggi, justru tidak akan diterima di SMAN hanya karena orang tuanya termasuk orang mampu. Karena orang tua tidak ingin anaknya menjadi "korban" dalam persaingan mendapatkan kursi di SMAN, maka diperkirakan tak sedikit orang mampu yang kemudian "memiskinkan diri" dengan meminta SKTM dari desa/kelurahan yang memang tidak sulit untuk memperolehnya.

Memang ada ketentuan lain yang menyatakan: jika ternyata SKTM tersebut tidak sesuai dengan kenyataan, maka meski sudah diterima di SMAN, anak tersebut bisa dikeluarkan dari sekolah. Namun apakah ketentuan tersebut akan benar-benar membuat masyarakat rela membiarkan anaknya tersingkir dari persaingan memperebutkan kursi SMAN? Apakah yang diprediksi banyak orang tadi nantinya benar-benar akan terjadi? Kita lihat saja nanti! [*]

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Perlu ada peraturan yang mengikuti nya lagi..biar tidak ada pihak yang dirugikan

11 Jun
Balas

Coba nantinya ada aturan berikutnya tidak.

11 Jun

Kalau seperti ini, yang miskin "hatinya" njih pak kepala sekolah ? Padahal agama kita mengajarkan tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah. Maksudnya agar kita semua selalu berusaha. Tapi orang-orang yang miskin hatinya selalu tidak mensyukuri nikmat sehingga senantiasa merasa kurang dan kurang, makanya berlomba- lomba jadi miskin. Tulisan bapak luar biasa, sangat kondisional sesuai dengan kenyataan yang sedang " marak". Salam sehat dan sukses selalu...pak kepala sekolah. Barakallah.

11 Jun
Balas

Iya, Bu. Padahal agama mengajarkan: jika terkait dg harta kita hrs merasa cukup, tapi kalau terkait dg ilmu kita hrs merasa kurang. Jangan malah dibalik! Salam sehat juga, Bu.

11 Jun

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali