Edi Prasetyo

Tinggal di Purbalingga, Jawa Tengah. Lulusan IKIP Yogyakarta jurusan PMP-KN. Saat ini bertugas sebagai Kepala SMA Negeri 1 Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah....

Selengkapnya

Bisikan Manjur Kiai Maskur

Hampir seminggu ini Bu Yuli, tetanggaku tergolek tak berdaya di rumah sakit. Dokter belum bisa mendiagnosa apa penyakitnya. Yang jelas, sudah seminggu ini, wanita berumur sekitar 40 tahun itu tak sadarkan diri. Matanya terpejam dan tubuhnya sama sekali tak bergerak. Hanya denyut nadi dan napasnya yang menunjukkan wanita beranak dua itu masih hidup.

Mardi, suaminya tampak begitu panik. Ia merasa sangat heran mengapa tiba-tiba istrinya bisa sakit seperti itu tanpa sebab yang jelas. Sepulang kerja seminggu yang lalu, ia menjumpai istrinya sudah tidak sadarkan diri di tempat tidur. Sementara kedua anaknya yang masih kecil-kecil sedang menangis di samping ibunya. Mardi langsung meminta bantuan tetangganya dan kemudian membawanya ke rumah sakit.

Mardi benar-benar tak sanggup membayangkan jika sampai istrinya dipanggil oleh Allah dalam usia yang masih cukup muda. Lebih-lebih ketika melihat kedua anaknya yang baru berusia 7 dan 3 tahun. Ia serasa ingin menjerit sekeras-kerasnya. Haruskah aku menjadi duda dengan dua anak yang masih kecil-kecil, pikir Mardi. Tak terasa, air matanya telah membasahi sprei tempat pembaringan istrinya.

"Assalamualaikum," terdengar orang mengucap salam yang suaranya tidak asing lagi bagi Mardi.

"Waalaikumsalam, Pak Kiai," jawab Mardi sambil mengusap air matanya langsung menjabat dan menciumi tangan Kiai Maskur yang merupakan tokoh masyarakat di desanya.

"Masih belum sadarkan diri juga istrimu, Pak Mardi?" tanya Kiai Maskur sambil duduk di sebelah Mardi.

"Belum, Pak Kiai," Mardi menjawab sambil menahan tangis.

Sesaat kemudian Kiai Maskur menyentuh kening Bu Yuli dengan telapak tangan kanannya. Tak berapa lama, kiai kharismatik itu menengok kepada Mardi dan kemudian berbisik kepadanya. Tidak jelas apa yang dibisikkan Kiai Maskur. Namun Mardi tampak menganggukkan kepala. Tak berselang lama, Mardi keluar dari ruang perawatan istrinya, membiarkan istrinya ditunggui Kiai Maskur.

Dengan mengendarai mobil, Mardi menuju ke supermarket untuk berbelanja. Duapuluh lima paket sembako yang masing-masing terdiri atas sekantung beras kemasan isi 5 kg, minyak goreng 2 liter, gula pasir 2 kg, sebungkus kopi bubuk, satu pak teh super, dan sekaleng ukuran sedang kue kering, ia beli.

Sepulang dari belanja, Mardi langsung membagikan sendiri bingkisan paket sembako itu kepada tetangga-tetangganya yang umumnya merupakan orang miskin. Meski tetangga-tetangganya tampak agak heran ketika menerima bingkisan yang tidak biasanya itu, namun mereka semua mendoakan untuk kesembuhan istri Mardi.

Selesai membagikan bingkisan sembako, laki-laki itu langsung menuju ke rumah mertuanya untuk mengajak kudua anaknya yang sementara dititipkan kepada mertuanya. Dua anak itu pun kemudian ia ajak ke rumah sakit untuk menengok orang yang sangat mereka sayangi.

"Dari mana saja kamu, Mas?" tanya Bu Yuli kepada suaminya saat melihat suami dan kedua anaknya masuk ke ruangan perawatan dirinya.

"Ya Allah! Kamu sudah sadar, Istriku?" Mardi berseru kegirangan dan langsung memeluk erat istrinya yang tengah ditunggui seorang perawat. Kedua anaknya pun ikut memeluk erat ibunya.

"Kiai Maskur ke mana?" tanya Mardi kepada istrinya.

"Kiai Maskur? Tidak ada Kiai Maskur di sini," jawab istrinya lirih.

"Betul, Pak. Tidak ada siapa-siapa di sini. Karena itulah kemudian saya menunggui istri Bapak," kata perawat wanita yang menunggui Bu Yuli.

Mardi terbelalak! Ia merasa heran. Mengapa Kiai Maskur tidak ada? Padahal tadi lelaki itu telah berjanji untuk menunggui istri Mardi sampai Mardi datang kembali. Apa mungkin kiai itu sedang mengerjakan shalat Asar di mushola kompleks rumah sakit? Namun sampai setengah jam lebih kiai itu tidak juga datang menemui Mardi.

Saat Mardi masih keheranan memikirkan keberadaan Kiai Maskur, datang Bu Hj. Munawaroh, istri Kiai Maskur.

"Assalamualaikum," Bu Munawaroh masuk ke ruangan sambil mengucap salam.

"Waalaikumsalam. Terima kasih sekali, Bu Hajah. Sendirian saja tidak dengan Pak Kiai?" tanya Mardi seraya mempersilakan Bu Munawaroh duduk.

"Iya, Pak. Sendirian saja karena Bapak sedang kurang enak badan. Bapak hanya ikut mendoakan semoga Bu Yuli lekas sembuh," jawab Bu Munawaroh.

Mendengar jawaban Bu Munawaroh itu, jantung Mardi serasa mau copot. Jika Kiai Maskur sedang tidak enak badan, lalu siapa yang tadi datang dan menasihatiku agar aku membagikan bingkisan sembako untuk tetangga-tetanggaku? Merinding juga Mardi memikirkannya. Namun ia merasa bersyukur karena istrinya telah sadar kembali. [*]

Purbalingga, 3 Juni 2018.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Sedekah itu sebagai penyembuh ya Pak. Dakwah versi Pak Edi keren euy..

03 Jun
Balas

Hehehe...ya, Bu. Sedekah ternyata bisa membuka jalan bagi kebaikan apapun, termasuk penyembuhan penyakit. Terima kasih, Bu Sri.

03 Jun

Menebar kebaikan menyemai harapan. Ok

03 Jun
Balas

Betul, Pak. Tebar terus kebaikan selagi bisa.

03 Jun

Sedekah sebagai penolong... Saya juga yakin itu.

05 Jun
Balas

Iya, Bu. Betul itu.

06 Jun

Betul bunda Sri, sedekah sebagai penyembuh, penolak bala dan pembersih harta bagi orang yang memilikinya. Mantafff jiwa, pesan ceritanya. Jazakillah khoir...pak kepala sekolah. Barakallah.

03 Jun
Balas

Betul sekali! Terima kasih sekali, Bu Raihana.

03 Jun

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali