Edi Prasetyo

Tinggal di Purbalingga, Jawa Tengah. Lulusan IKIP Yogyakarta jurusan PMP-KN. Saat ini bertugas sebagai Kepala SMA Negeri 1 Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah....

Selengkapnya

Dan Alquran pun Menangis

Entah sudah berapa lama lelaki itu duduk di kursinya. Kurasa sudah lebih dari lima jam. Sejak usai shalat Subuh tadi, ia hampir tak beranjak. Kedua tangannya sibuk dengan gawainya. Matanya hampir tak pernah berkedip melihat layar gawai yang dipegangnya. Sesekali ia tersenyum, namun kadang ia mendesah.

Kebiasaan itu memang sudah lama ia jalani. Bahkan di saat bulan Ramadan ini, kebiasaannya itu semakin menjadi-jadi. Dengan alasan untuk mengalihkan rasa lapar dan hausnya, ia betah berlama-lama dengan gawainya. Kumandang azan sering diabaikannya. Suara orang bertadarus tak pernah pula digubrisnya.

Namun tiba-tiba tangan lelaki itu berhenti bergerak. Gawai ia letakkan di atas meja. Matanya berusaha menyapu seluruh sudut ruangan. Dipertajam pendengarannya. Lelaki itu ingin memastikan suara rintihan yang baru saja didengarnya. Lelaki itu tampak keheranan. Tidak ada orang lain di rumahnya. Tapi kenapa ada suara rintihan?

Ketika ia berjingkat mencari sumber suara rintihan itu, ia merasa yakin bahwa sumber suara berasal dari lemari kaca tempat menyimpan aneka buku miliknya. Dengan tetap berjingkat, lelaki itu mendekati lemari kaca itu. Semakin ia mendekat ke lemari kaca, semakin jelas pula suara rintihan yang didengarnya.

Dengan keyakinan penuh, lelaki itu membuka lemari kaca itu. Seketika suara rintihan itu berhenti. Tapi lelaki itu tidak menemukan siapa pun kecuali aneka buku yang tertata rapi. Agak merinding juga ia. Kemudian lemari kaca itu pun ia tutup kembali. Namun baru saja ia hendak melangkah, suara rintihan itu kembali didengarnya. Ia pun kembali membuka lemari kaca itu.

Lelaki itu benar-benar heran. Di dalam lemari kaca tidak ada siapa pun. Lalu siapa yang merintih tadi? Ketika ia mengamati satu persatu buku yang ada di lemari kacanya, ia terkejut! Alquran yang ia letakkan di pinggir sebelah kanan, meneteskan air. Kok bisa Alquran meneteskan air? Dari mana asal air itu? Padahal lemari kacaku tidak kemasukan air dari mana pun? Berbagai pertanyaan muncul di benak lelaki itu.

"Aku sangat kecewa kepadamu, Rofik," terdengar suara lirih dari Alquran tersebut.

Rofik, lelaki itu pun kaget. Mengapa Alquran bisa berbicara? Namun belum sampai habis rasa herannya, Alquran itu kembali berkata.

"Aku benar-benar kecewa kepadamu, Rofik. Saat aku kamu bawa dari Mekah ke rumahmu, aku merasa sangat yakin bahwa aku akan sangat kamu sayangi. Setiap saat aku akan kamu baca dan aku akan sangat senang mendengarkan bacaanmu. Tapi sudah lima tahun ini aku di rumahmu, nyatanya aku kau sia-siakan. Hanya sekali aku kamu baca saat kamu baru pulang umroh saat itu. Itu pun tidak sampai selesai. Namun sejak saat itu, sama sekali kamu tidak pernah menyentuhku, apalagi membacaku," terdengar suara Alquran sambil sesenggukan.

Rofik terhenyak. Ia mengaku khilaf karena telah menyia-nyiakan Alquran yang pernah dibanggakannya karena ia bawa dari Mekah. Tapi nyatanya, sudah sekian lama ia tak pernah membacanya.

"Aku benar-benar tidak menyangka, Rofik. Sebagai orang yang pernah menjalankan umroh, ternyata kamu masih saja lebih memilih sibuk menghabiskan waktu untuk membuka gawai daripada membuka dan membacaku. Apa kamu sudah lupa, bahwa dengan membacaku kamu akan mendapatkan banyak pahala? Apakah kamu sudah tak peduli, bahwa akulah yang akan melindungi orang yang suka membacaku di Padang Mahsar nanti? Kamu tidak tuli kan, Rofik?"

Rofik gemetar! Matanya basah oleh air mata. Seketika ia ambil gawai yang diletakkannya di atas meja. Brak! Gawai itu pun dibantingnya. Ia lalu berlari ke kamar mandi. Diambilnya air wudu. Ia langsung mengenakan sarung, baju koko, dan peci. Diambilnya Alquran yang menangis tadi. Beberapa kali ia ciumi Kitab Suci yang sudah sekian lama tak dibacanya itu. Dengan suara agak bergetar, Rofik membaca Alquran itu.

Awalnya memang agak tersendat karena lelaki itu menahan rasa bersalah. Namun lama-lama suara merdu lelaki itu kembali terdengar. Alquran pun tersenyum melihatnya.[*]

Sokaraja, 4 Juni 2018.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Seperti nya komentar saya sudah disampaikan oleh Bu Nana. Memang Pak Edi bisa menghidupkan benda mati bisa berbicara.dan tidak semua penulis bisa.

04 Jun
Balas

Tentu semua penulis bisa melakukannya, Bu. Coba saja!

04 Jun

Cerita pagi yang inspiratif pak Edi

04 Jun
Balas

Untuk mengingatkan diri kita, Pak.

04 Jun

Hampir sama dengan yang ingin saya tulis tapi masih dalam angan -angan

04 Jun
Balas

Terima kasih untuk selalu mengingatkan

04 Jun

Sama-sama, Bu. Semoga bisa mengingatkan diri kita.

04 Jun

Subhanallah...., mantabbbb...pak kepala sekolah. Inilah ciri khas dari pak Edi yang tidak ditemukan di penulis lain. Tulisannya terlitah biasa saja, keseharian . namun SARAT PESAN sehingga tulisan pak Edi menjadi LUAR BIASA. Jazakallah khoir susah sangat mengingatkan. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah...pak.

04 Jun
Balas

Alhamdulillah. Apa iya, Bu? Terima kasih sekali telah berkenan untuk membaca. Untuk mengingatkan diri kita, Bu

04 Jun

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali