Edi Prasetyo

Tinggal di Purbalingga, Jawa Tengah. Lulusan IKIP Yogyakarta jurusan PMP-KN. Saat ini bertugas sebagai Kepala SMA Negeri 1 Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah....

Selengkapnya
Darkim Jadi Guru (Episode : Ujian Berat, bagian ke-1)

Darkim Jadi Guru (Episode : Ujian Berat, bagian ke-1)

Tak terasa, Darkim telah tinggal di rumah keluarga bapak Sutrisno sampai akhir semester kedelapan. Pada semester yang kesembilan, Darkim menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN). Saat menjalani KKN itulah Darkim mengalami ujian berat. Ujian berat apakah yang dialami Darkim? Mampukah Darkim melewati ujian berat tersebut? Ikuti kisah selanjutnya.

Hari-hari terus berlalu. Delapan semester sudah Darkim menempuh kuliah. Berkat ketekunannya dalam belajar, semua matakuliah telah berhasil ia selesaikan dengan hasil yang cukup memuaskan. Pada semester yang kesembilan, Darkim menjalani Kuliah Kerja Nyata untuk mengakhiri masa studinya. Dalam pikirannya, setelah selesai menjalani KKN, ia tinggal menyusun skripsi, lalu ujian skripsi, terus wisuda. Setelah itu ia akan segera menjadi guru. Dengan demikian, maka akan tercapailah cita-citanya.

Namun pada saat menjalani KKN itulah cobaan berat datang menimpanya. Emaknya yang sangat ia cintai secara mendadak dipanggil oleh Tuhan untuk selamanya. Ia hampir tidak percaya dengan kenyataan yang ada. Sebulan sebelumnya, di saat ia berpamitan pada emaknya ketika mau berangkat KKN, ia masih melihat emaknya dalam keadaan segar bugar. Bahkan ketika itu, emaknya meminta Darkim untuk tidur bersamanya. Pada saat itulah emaknya banyak memberikan nasihat kepadanya. Ia sama sekali tidak mengira, kalau nasihat emaknya kala itu ternyata merupakan nasihatnya yang terakhir.

Sungguh ia tidak menyangka kalau emaknya akan begitu cepat meninggalkannya. Dalam telegramnya, Murni hanya mengatakan kalau emaknya sakit keras. Namun nyatanya, sesampainya di rumah, ia melihat tubuh emaknya telah terbungkus kain kafan dikelilingi oleh para tetangga dan kerabat mereka.

Darkim meraung-raung begitu melihat jenazah emaknya yang telah terbungkus kain kafan itu. Ingin rasanya ia memeluk erat-erat jenazah emaknya yang telah kaku itu. Ia pun ingin menciumi orang yang sangat dicintainya itu untuk yang terakhir kalinya. Namun seseorang yang bertubuh kekar mencegahnya. Sambil meronta-ronta Darkim dibawa masuk ke dalam kamarnya. Sikap Darkim itu benar-benar membuat haru semua orang yang bertakziah di rumahnya.

Murni berusaha menenangkan kekasihnya. Ia masuk ke kamar kemudian duduk di samping Darkim yang terbaring di atas dipan ditunggui oleh empat orang tetangganya. Belum sampai Murni mengatakan apa pun, tangis Darkim kembali pecah. Bahkan semakin keras. Murni yang sebelumnya berusaha untuk tetap tabah, akhirnya ikut menangis juga.

Beberapa saat setelah tangis Darkim dan Murni mereda, masuklah pak Irsyad, kayim desa Gayuh, untuk menenangkan hati Darkim. Lelaki tua yang sudah cukup berpengalaman menghadapi keadaan seperti itu, duduk di samping Darkim dan kemudian memijit-mijit kaki anak muda itu. Sambil terus memijit, lelaki tua itu berusaha menenangkan Darkim dengan nasihat-nasihatnya.

“Sudahlah, Nak Darkim. Bapak memahami, memang sungguh sangat menyedihkan ditinggal mati oleh orang yang sangat kita cintai,” kata Pak Irsyad pelan. “Apalagi seperti Nak Darkim ini. Tanpa sakit sehari pun, emak Nak Darkim langsung meninggal. Dan Nak Darkim sendiri tidak sempat melihat saat-saat terakhir emak Nak Darkim meninggal. Tahu-tahu Nak Darkim melihat tubuh emak Nak Darkim telah terbujur kaku dan terbungkus kain kafan. Bapak yakin, semua orang pun kalau mengalami hal yang sama seperti yang Nak Darkim alami, tentu akan sangat terpukul dan bersedih.”

Sejenak pak Irsyad menghentikan kata-katanya. Meskipun kata-kata lelaki tua itu belum sepenuhnya bisa menghentikan tangis Darkim, namun setidaknya anak muda itu sudah tidak lagi meronta-ronta. Tangisnya pun hanya tinggal sesenggukan. Itu pun hanya sesekali. Sesaat kemudian, pak Irsyad melanjutkan kata-katanya.

“Namun hendaknya Nak Darkim menyadari, bahwa hidup matinya seseorang itu sudah ditentukan oleh Tuhan. Kapan pun, kalau Tuhan menghendaki, siapa pun akan bisa dipanggil-Nya, dengan cara yang dikehendaki-Nya pula. Termasuk emak Nak Darkim ini. Karena itulah, kita yang ditinggalkannya, harus tabah menghadapinya. Lebih-lebih seperti Nak Darkim ini kan calon sarjana. Sebagai calon sarjana, tidak seharusnya Nak Darkim terlalu larut dalam kesedihan. Meninggalnya emak Nak Darkim, adalah suatu kenyataan yang tidak bisa tidak harus Nak Darkim terima. Yang harus Nak Darkim lakukan sekarang bukanlah menyesalinya dan larut dalam kesedihan. Nak Darkim justru harus banyak berdoa, semoga arwah almarhumah bisa mendapatkan tempat yang baik di sisi-Nya, diterima semua amal ibadahnya, serta diampuni dosa-dosanya. Mudah-mudahan Nak Darkim yang ditinggalkannya pun senantiasa diberi ketabahan dan kekuatan agar bisa melanjutkan usaha untuk mencapai cita-cita.”

Bersambung....

Hotel Salak Tower, Bogor, 13 Maret 2018.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Turut berduka... Jadi ikut sedih. Luar biasa ceritanya. Bagus banget...

13 Mar
Balas

Bu Nia jangan bersedih, ya. Ini kan cuma cerita.

14 Mar

Semoga Darkim tabah menghadapi ujian ini

13 Mar
Balas

Apakah Darkim tabah menghadapinya? Jawabannya nanti sore, ya Bu.

14 Mar

Darkim harus kehilangan emaknya Padahal ia belum sempat membalas semua kebaikan emaknya hanya doamu ya Darkim yang diperlukan emakmu di alamnya yang baru

13 Mar
Balas

Itulah sebabnya maka Darkim bersedih. Lalu, apakah Darkim masih bersemangat untuk menyelesaikan kuliahnya? Ikuti kelanjutan ceritanya nanti sore.

14 Mar

Mberebes mili iki Pak. Baarokallah.

14 Mar
Balas

Sedih ya Bu? Hanya cerita kok?

15 Mar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali