Edi Prasetyo

Tinggal di Purbalingga, Jawa Tengah. Lulusan IKIP Yogyakarta jurusan PMP-KN. Saat ini bertugas sebagai Kepala SMA Negeri 1 Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah....

Selengkapnya

Digondol Wewe Randu Growong

Malam itu, tiga lengger cantik masih terus menari. Musik calungnya pun terus bertalu mengiringi tarian mereka. Ratusan penonton yang mengelilingi arena pertunjukan di halaman rumah seorang warga kampungku yang sedang hajatan, bertepuk tangan dengan riuhnya. Beberapa di antara mereka bahkan bersuit-suit sehingga menambah meriahnya suasana. Namun entah mengapa, Basor yang biasanya betah nonton lengger sampai selesai, tampak bergegas pergi meninggalkan arena pertunjukan.

O, ternyata ada yang lebih menarik perhatian Basor daripada tiga penari lengger yang cantik-cantik itu. Seorang perempuan muda yang bergegas meninggalkan arena pertunjukan, benar-benar lebih menarik perhatiannya. Basor pun berjalan cepat menyusul perempuan muda yang belum dikenalnya itu.

"Lengger belum selesai kok sudah pulang, Mbak?" sapa Basor kepada perempuan muda itu setelah berada empat langkah di belakangnya.

"Iya, Mas. Takut pulangnya kemalaman," jawab perempuan itu menoleh ke belakang sambil menghentikan langkahnya.

Melihat kecantikan perempuan itu, ditambah keharuman bau badannya, otak Basor mulai menyusun rencana.

"Malam-malam begini pulang sendirian apa tidak takut, Mbak?" Basor mulai melontarkan jurus gombalnya.

"Sebenarnya agak takut juga sih. Tapi mau bagaimana lagi, Mas?" perempuan itu menjawab dengan genit.

Merasa mendapat sinyal positip, Basor yang dikenal sebagai Play Boy Kampung itu semakin agresif.

"Kalau aku antar pulang mau, Mbak?" tanya Basor sambil berjalan di sebelah kanan perempuan itu.

"Yang benar, Mas! Sungguh, Mas bersedia mengantar saya?" perempuan cantik itu menjawab sambil mengerlingkan mata.

"Tentu saja. Siapa sih yang tak bersedia mengantar pulang perempuan cantik seperti Mbak?" Basor tampak lebih agresif dalam usahanya untuk menarik perhatian perempuan cantik itu.

Perempuan cantik itu tampak tersipu. Keduanya terus saja berjalan berdampingan. Sinar bulan yang temaram, sama sekali tak menghalangi Basor untuk mengumbar mata jalangnya. Kecantikan dan keseksian tubuh perempuan itu, ditambah keharuman bau badannya, benar-benar telah membuat Basor klepek-klepek.

"Ngomong-ngomong, kalau saya antar pulang, apa nanti suami Mbak tidak marah?" Basor sengaja mengajukan pertanyaan itu untuk mengetahui status perempuan itu.

"Siapa yang akan marah? Saya belum bersuami kok, Mas," jawab perempuan cantik itu dengan suara manja.

"Yes! Ini kesempatan yang sangat bagus bagiku," hati Basor berjingkrak. "Aku harus bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya," pikiran kotor Basor mulai muncul.

Basor pun mulai berani. Sambil berjalan, tanpa ragu tangannya menggandeng tangan perempuan cantik itu. Perempuan cantik itu tak menolak. Beberapa kali ia bahkan cekikikan sambil mencubit pinggang Basor saat Basor mulai melontarkan kata-kata mesra. Mereka pun terus berjalan melintasi pinggir sawah yang sangat sepi.

"Rumahmu masih jauh, Tarni?" tanya Basor kepada perempuan cantik yang telah mengaku bernama Tarni itu.

"Sudah dekat, Mas. Itu di ujung kampung sebelah," tangan Tarni menunjuk ke arah kampung sebelah.

Mereka berdua terus saja bejalan bergandengan tangan sambil bercanda mesra.

"Ini rumahku, Mas," kata Tarni sesaat setelah sampai di ujung kampung sambil menunjuk rumah mungil yang hanya diterangi lampu teplok. Mereka berdua kemudian masuk ke rumah.

"Kok rumahmu sepi, Tarni? Orang tuamu mana?" Basor bertanya sambil duduk di kursi tamu.

"Ya, Mas. Saya sudah tidak punya orang tua lagi. Saya hanya sendirian tinggal di rumah ini," jawab Tarni yang duduk di samping Basor.

Mendengar pengakuan Tarni, otak Basor semakin ngeres saja. Dengan rayuan gombalnya, Play Boy Kampung itu kemudian berhasil menaklukkan Tarni. Hampir semalaman, mereka bermesraan di rumah mungil itu.

Usai bermesraan, Basor merasakan keanehan pada diri Tarni. Keharuman tubuhnya yang telah membuat Basor tergila-gila, tiba-tiba berubah menjadi bau busuk yang menyengat. Kehalusan kulitnya, tiba-tiba telah berubah menjadi kasar seperti bersisik. Penasaran dengan perubahan pada diri perempuan yang telah dikencani hampir semalaman itu, Basor kemudian membalikkan wajah perempuan yang berbaring membelakanginya itu.

Basor kaget bukan main! Wajah Tarni yang cantik telah berubah menjadi keriput. Sinar matanya yang lembut, telah berubah menyala dan menakutkan. Sambil menyeringai seolah menunjukkan gigi hitamnya yang tinggal enam, perempuan itu kemudian memeluk erat-erat tubuh Basor sambil tertawa dengan nada yang menakutkan. Meski dengan sekuat tenaga Basor berusaha untuk melepaskan pelukan Tarni, namun usahanya sia-sia. Pelukan Tarni yang semakin kuat, membuat Basor semakin ketakutan sehingga tak ingat apa-apa lagi.

Basor baru sadarkan diri ketika mendengar orang-orang yang akan pergi ke pasar mengerumuninya.

"Ada apa Kang Basor kok tidur di bawah pohon randu growong?" tanya salah seorang di antara mereka.

"Apa? Aku tidur di bawah randu growong?" Basor yang tinggal mengenakan celana kolor tampak terkejut. Ia kemudian segera mengenakan pakaiannya kembali.

Orang-orang yang mengerumuninya semuanya terbahak-bahak. Salah seorang di antara mereka kemudian nyeletuk.

"Rupanya, Play Boy Kampung kita baru saja digondol wewe randu growong!"

Mendengar celetukan ini, seketika orang-orang yang mengerumuni Basor kembali terpingkal-pingkal. Sambil menahan rasa malu, dengan cepat Basor berlari meninggalkan kerumunan warga. [*]

Purbalingga, 8 Juli 2018.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Kapokmu kapan Basor.??

23 Jul
Balas

Iya, Bu. Semoga Basor tobat tak lagi menjadi play boy.

26 Jul

Suka honor..yha Horor..ding. Jebul terjebak sama mbak kunti..

08 Jul
Balas

Hehe...biar ada variasinya, Pak.

08 Jul

Basor oh basor, pelajarannya jangan salah pilih perempuan prioritaskan manusia dulu baru wewe randu growong

08 Jul
Balas

Iya itu, Pak. Basor memang gak pilih2.

08 Jul

Wah ceritanya mulai nyerempet yang serem-serem, jangan-jangan ini bagian dari Buku terbaru pak Edi ya? pasti seru

08 Jul
Balas

Bukan, Pak. Itu ide spontan saat bangun tidur tadi kok.

08 Jul

Kisah misteri .....

08 Jul
Balas

Ya, Pak. Pokoknya, dg rambu2 tertentu, apa saja boleh ditulis kok, Pak.

08 Jul

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali