Edi Prasetyo

Tinggal di Purbalingga, Jawa Tengah. Lulusan IKIP Yogyakarta jurusan PMP-KN. Saat ini bertugas sebagai Kepala SMA Negeri 1 Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah....

Selengkapnya

Hai, Kakek Tua Jelek!

Sore itu, di saat aku dan cucuku yang masih kecil sedang duduk-duduk di taman kota, berjalan melintas sepasang muda-mudi di hadapan kami. Mereka berdua berjalan bergandengan tangan sambil bercanda ria. Yang perempuan tampak begitu jelita, yang pria pun tampak gagah perkasa. Aku betul-betul kagum kepada mereka. Karena itulah, mataku hampir tak berkedip melihat mereka.

Setelah sekitar sepuluh meter mereka melewati kami, langkah mereka kemudian berhenti. Mereka yang semula mengacuhkan kami, tiba-tiba yang pria kemudian melangkah mendekati kami.

"Hai, kakek tua jelek!" ujar pria gagah itu sambil melotot kepadaku. "Mengapa dari tadi kamu memandangku seperti itu?" lanjutnya dengan menunjuk-nunjuk mukaku.

Aku terperanjat! Mengapa pria gagah yang menurut perkiraanku perilakunya sopan itu ternyata bersikap seperti itu kepadaku?

"Ada apa, Anak Muda?" dengan tetap duduk memegang pundak cucuku, aku bertanya kepadanya.

"Aku bertanya kepadamu, kakek tua jelek!" kata anak muda itu dengan berkacak pinggang. Kulihat yang perempuan kemudian datang menghampirinya.

"Bertanya mengenai apa, Anak Muda?" aku mengelus cucuku yang tampak mulai ketakutan.

"Mengapa kamu memandang kami seperti itu?"

"Seperti itu bagaimana? Ini karena aku sangat mengagumi kalian, Anak Muda. Bagiku, kalian berdua adalah pasangan yang serasi," jawabku.

"Kamu jangan bohong, kakek tua jelek! Dari cara memandangmu seperti itu, jelas bukan seperti itu yang ada di hatimu."

Sejenak aku diam. Mengapa anak muda ini berkata seolah-olah mampu menyelami isi hatiku? Padahal sudah aku katakan, bahwa aku mengagumi mereka. Itu jujur aku katakan. Menurutku, postur tubuh anak muda itu tak berbeda denganku saat aku masih muda dulu. Wajar kan kalau aku mengaguminya? Tapi kenapa dia tak percaya?

"Apa menurutmu kata-kataku tadi dusta, Anak Muda?" aku bertanya kepadanya.

"Ya. Aku yakin kamu telah berdusta, kakek tua jelek," jawabnya tetap tak percaya.

Aku berdiri dan tersenyum kepadanya. Sesaat kemudian aku berkata, "Jadi menurutmu, apa yang ada di hatiku, Anak Muda?"

"Kamu telah menghinaku dengan tatapan matamu, kakek tua jelek! Kamu harus merasakan akibatnya," katanya penuh amarah sambil berniat melayangkan pukulan tangan kanannya kepadaku. Namun dengan cekatan kekasihnya menangkap tangannya.

"Jangan kamu lakukan, Mas! Untuk apa kamu mau berbuat begitu kepada kakek ini? Tak ada gunanya, Mas," kata gadis itu.

"Kita pulang saja, Kek!" ujar cucuku sambil memegang tanganku. Rupanya dia semakin ketakutan.

"Nanti dulu, cucuku. Kakek harus menyelesaikan urusan ini dulu," kataku.

Sambil menatap wajah anak muda itu aku berkata, "Jika tatapan mataku tadi telah membuatmu tidak berkenan, aku betul-betul minta maaf, Anak Muda."

Aku baru saja hendak menyalami tangannya ketika tiba-tiba dia mendorong tubuhku dengan kedua tangannya yang kekar. Aku nyaris kehilangan keseimbangan. Cucuku yang semakin ketakutan, berlari dan berlindung di balik sebatang pohon.

Meski emosiku mulai terpancing, tapi aku tetap berusaha untuk tenang. "Baik, Anak Muda. Aku memang sudah tua. Namun demikian, kurasa aku masih sanggup untuk meladenimu," aku mencoba menggertaknya.

Rupanya gertakanku tak mempan. Dengan kekuatan penuh, anak muda itu langsung memukul wajahku. Namun sebelum pukulannya mengenai wajahku, dengan sigap aku menangkap tangannya dan langsung memuntir tangannya ke punggungnya. Seketika anak muda itu meronta-ronta dan meminta ampun kepadaku.

"Ampun, Kek! Ampun, Kek!" katanya berulang-ulang. Aku tidak segera melepas tangannya. Aku ingin memberi pelajaran kepadanya, agar ia bisa berlaku sopan kepada orang tua sepertiku.

"Aku mau mengampunimu, Anak Muda. Tapi tolong panggil bapakmu kemari. Aku ingin memberi tahu bapakmu agar bisa mendidikmu dengan lebih baik."

Anak muda itu menuruti kata-kataku. Dengan tangan kiri, ia merogoh hp di saku celananya. Ia angkat hp dan kemudian menelpon bapaknya. Tak berselang lama datang laki-laki tua seumuranku.

"Warso?" kata laki-laki tua yang kurasa aku pernah kenal suaranya itu. "Kamu apakan anakku, Warso?" tanyanya.

Aku tertegun! "Sardi!" kataku. Ternyata laki-laki tua itu adalah Sardi, temanku saat masih sama-sama menjadi anggota Kopasus dulu. Segera kupeluk erat temanku yang telah cukup lama tidak berjumpa denganku itu.

"Maafkan anak bungsuku yang telah berlaku tidak sopan kepadamu, Warso," kata Sardi sambil melepas pelukanku. Aku pun mengangguk sambil tersenyum kepada anak muda yang tadi mau memukulku itu.

"Untung saja aku tidak sampai mematahkan rahang anakmu, Sardi," kataku berkelakar.

Kami pun kemudian tertawa bersama. Sejak peristiwa itu, anak muda itu begitu hormat kepadaku. Mudah-mudahan juga kepada siapa pun.*

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Sukses dan mantap

14 Nov
Balas

Terima kasih, Pak Cecep. Sukses juga untuk Pak Cecep.

14 Nov

Sukses dan mantap

14 Nov
Balas

Terima kasih, Pak Cecep.

15 Nov

Sepertinya ini kisah nyata ya pak Edi.

14 Nov
Balas

Bukan, Bu Desmi. Cerita rekaan saja. Shg agak susah mengolah katanya. Terima kasih atas perhatian Ibu.

15 Nov

Wow, dahsyat

15 Nov
Balas

Terima kasih sekali atas komentarnya, Bu Isminatun. Tulisan Ibu juga bagus-bagus sekali!

15 Nov

hebat kakek tua jelek ini... hehe

15 Nov
Balas

Biar sdh jelek, dulunya pernah jadi anggota Kopasus ya Pak? Hehehe... selamat berkarya, Pak Agus!

15 Nov

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali