Edi Prasetyo

Tinggal di Purbalingga, Jawa Tengah. Lulusan IKIP Yogyakarta jurusan PMP-KN. Saat ini bertugas sebagai Kepala SMA Negeri 1 Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah....

Selengkapnya

Jangan Bercita-cita Menjadi Guru, Nak!

Sudah seminggu ini, dokter Sumadi tampak muram. Pikirannya kacau, hatinya galau. Sebagai seorang dokter, ia menginginkan agar kelak Andi, anak semata wayangnya, juga menjadi dokter. Karena menurutnya, kehidupan dokter itu menyenangkan. Pekerjaannya tidak berat tapi uangnya banyak. Dengan uang yang banyak itu, seorang dokter akan bisa membeli atau memenuhi apa saja yang diinginkannya. Tapi Andi tidak mau. Anak itu sama sekali tak berkeinginan untuk menjadi dokter. Ia justru memiliki cita-cita menjadi seorang guru.

“Jadi dokter itu menyenangkan, Andi. Pekerjaannya tidak terlalu berat, tapi uangnya banyak. Contohnya seperti ayah ini,” ujar dokter Sumadi suatu malam saat duduk-duduk bersama istri dan anaknya itu.

“Andi tahu, Ayah. Tapi Andi benar-benar tak berkeinginan untuk menjadi dokter,” ucap siswa kelas XII SMA itu yang membuat ayah dan ibunya heran.

“Kenapa, Andi? Dokter itu profesi mulia, bukan?. Setiap hari bekerja untuk menolong menyembuhkan pasien yang sedang menderita sakit. Bukankah itu profesi yang mulia?” dokter Sumadi mencoba memberi pemahaman kepada anaknya.

“Dokter itu memang profesi yang mulia, Ayah. Tapi menurut pengamatan Andi, banyak dokter yang tidak berhati mulia,” ujar Andi yang membuat dokter Sumadi dan istrinya terperanjat.

“Mengapa kamu berkata seperti itu, Andi? Coba kamu jelaskan kepada ayah dan ibumu,” ujar Bu Sumadi dengan suara lembut.

Anak itu terlihat menarik napas sejenak. Mungkin dia sedang berusaha mengatur kata-kata yang ingin diucapkannya. Sesaat kemudian anak itu pun berkata.

“Menurut Andi, banyak dokter yang dalam melaksanakan profesinya tidak benar-benar ikhlas untuk menolong pasien. Karena, meski yang dilakukan dalam memeriksa pasien hanya sebentar, tapi kebanyakan dokter meminta bayaran yang mahal. Sepertinya tidak ada rasa kasihan kepada keluarga pasien yang sedang bersedih. Selain itu, doa dokter kebanyakan tidak baik. Meski setelah memeriksa pasien secara lisan dokter mengatakan “semoga lekas sembuh”, tapi dalam hatinya ia selalu mengharapkan agar setiap hari banyak pasien yang datang kepadanya. Sebab dengan banyaknya pasien yang datang untuk berobat kepadanya, itu artinya akan semakin banyak uang yang akan diperolehnya. Bukankah ini sama saja mendoakan agar banyak orang yang sakit, Ayah? Lalu di mana letak mulianya profesi dokter?”

Dokter Sumadi tersentak! Kata-kata anaknya itu terasa menohok ulu hatinya. Darahnya terasa sedikit naik. Telapak tangan kanannya hampir saja melayang ke wajah anaknya itu kalau saja istrinya tidak cepat-cepat mencegahnya.

“Baiklah kalau kamu tidak mau menjadi dokter tidak apa-apa, Andi,” ujar Bu Sumadi sambil mengelus kepala anaknya. “Mungkin jiwamu memang tidak cocok untuk menjalani profesi dokter. Tapi tentu kamu bisa memilih profesi lain yang cukup menjanjikan kehidupanmu kelak, Nak. Misalnya saja menjadi perwira militer atau pilot,” lanjut Bu Sumadi masih dengan mengelus-elus kepala anaknya.

“Andi juga tidak mau menjadi perwira militer maupun pilot, Bu,” jawab anak itu cepat.

“Kenapa, Andi?” tanya ibunya dengan wajah penuh keheranan.

“Karena perwira militer itu telah dilatih untuk membunuh musuh, dan Andi tak ingin menjadi seorang pembunuh. Sedangkan pilot, Andi juga tidak suka karena risikonya sangat besar. Jika pesawatnya sampai jatuh ke dasar samudra, kemudian jasad Andi tidak bisa ditemukan, tentu Ayah dan Ibu akan sangat menderita nantinya.”

Mendengar kata-kata anaknya itu, Bu Sumadi langsung memeluk erat-erat anaknya. Meski baru sebatas kata-kata, namun apa yang diucapkan anaknya tadi telah cukup mengusik jiwa keibuannya. Wanita itu benar-benar tak ingin jika anaknya sampai menjadi pembunuh, meski yang dibunuh itu seorang musuh. Ia pun tak ingin anaknya jatuh ke dalam samudra dan ia tak bisa melihat jasadnya. Tak terasa, kedua matanya mulai basah oleh air mata.

“Sebenarnya kamu itu bercita-cita untuk menjadi apa, Andi?” tanya dokter Sumadi dengan suara agak tertahan.

“Andi bercita-cita untuk menjadi guru, Ayah.”

“Menjadi guru? Apakah ayah tidak salah dengar?” ujar dokter Sumadi tampak keheranan mendengar pengakuan anaknya.

“Tidak, Ayah. Andi benar-benar ingin menjadi guru, Ayah.”

Dokter Sumadi tampak menggeleng-gelengkan kepalanya. Beberapa kali ia menarik napas panjang. Tak lama kemudian ia berkata kepada anaknya.

“Menjadi guru itu hidupnya susah, Andi. Tuntutan administrasinya bermacam-macam dan sangat rumit. Gajinya pun tak seberapa. Masih mending kalau sudah diangkat menjadi PNS dan mendapatkan tunjangan profesi. Tapi kamu lihat sendiri, Andi. Sekarang ini, banyak sekali guru yang masih berstatus honorer dan tak ada kejelasan kapan mereka akan diangkat menjadi PNS. Berapa honor yang mereka terima setiap bulan? Paling banyak 600 ribu. Uang sejumlah itu, akan mudah didapat oleh dokter dengan hanya memeriksa beberapa pasien saja. Tapi mengapa kamu malah menginginkan profesi guru dengan mengesampingkan profesi dokter?”

“Iya, Andi. Menjadi guru itu, apalagi jika masih berstatus honorer, hidupnya sungguh sangat susah. Tapi mengapa kamu justru menginginkannya? Bukankah kelak kamu juga ingin hidup bahagia, Nak?” timpal Bu Sumadi sembari memandangi wajah anaknya.

Sejenak Andi terdiam. Ia pandangi wajah ayah dan ibunya secara bergantian. Secara jelas, anak itu dapat menangkap perasaan tidak suka di hati kedua orang tuanya atas cita-cita yang dipilihnya. Tapi tekadnya sudah bulat. Pokoknya ia ingin menjadi guru, bukan yang lain. Apa pun risikonya!

“Maafkan jika apa yang Andi cita-citakan tidak menyenangkan Ayah dan Ibu. Tentu saja, sebagaimana Ayah dan Ibu, Andi juga menginginkan hidup bahagia. Tapi mungkin pandangan tentang hidup bahagia antara Andi dengan Ayah dan Ibu berbeda. Jika Ayah dan Ibu menganggap bahwa hidup bahagia itu ukurannya harta, punya uang yang banyak, tapi menurut pandangan Andi tidak seperti itu. Bagi Andi, hidup bahagia itu bukan uang ukurannya. Uang memang penting, tapi Andi tidak ingin mendapatkannya dari orang-orang yang sedang menderita. Selain itu, Andi ingin dalam kehidupan sehari-hari selalu penuh dengan keceriaan. Semua itu hanya mungkin Andi peroleh di dunia pendidikan, bukan di dunia kedokteran maupun kemiliteran. Karena itu, tekad Andi sudah bulat. Andi ingin menjadi guru, Ayah, Ibu.”

Bu Sumadi langsung menjerit sekeras-kerasnya sembari memeluk erat-erat anaknya. Ia benar-benar tak kuasa membayangkan kehidupan anak semata wayangnya kelak yang jelas tak akan bergelimang harta. Tapi ia paham betul, bahwa anaknya memang orang yang memiliki pendirian yang sangat kuat. Jika ia telah memiliki pendirian yang diyakininya baik, maka tak akan ada seorang pun yang bisa mencegahnya. Tidak juga ayah dan ibunya.

Wanita itu hanya bisa terus memeluk erat anaknya sambil berurai air mata. Sementara suaminya tampak membuang pandangannya melalui jendela, dengan perasaan kecewa. [*]

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Cerpen baru ya pak. Buku yg keberapa. Semoga tambah sukses.

03 Nov
Balas

Cerpan baru tadi saya buat, Pak. Nantinya, insyaallah akan saya bukukan juga.

03 Nov

Go go Andi teruskan cita-citamu menjadi guru. Cerita sore yang menyentuh

03 Nov
Balas

Iya, Bu. Ini tadi sambil menikmati turunnya hujan saya menulis cerpen ini.

03 Nov

Semangat Andi..guru itu luar biasa...hehehe..jangan-jangan dulu Pak Kepala tak boleh jadi guru ya?

03 Nov
Balas

Bukan dilarang menjadi guru, Bu tapi dilarang kuliah krn tdk punya biaya. Dengan modal nekat, alhamdulillah saya diberi jalan keluar oleh Allah sehingga bisa kuliah di IKIP Jogja dan kemudian menjadi guru.

03 Nov

Bagus sekali cerpennya Pak. Menjadi seorang guru adalah sebuah profesi yang mulia...

03 Nov
Balas

Betul sekali, Bu. Makanya pemerintah perlu memberi perhatian yg memadai kepada guru, termasuk guru honorer.

03 Nov

Cerita yang menarik sejatinya ditulis dengan hati, dekat dengan kehidupannya dan tahu betul rasanya. Cerpen ini pun demikian, penulisnya sangat peka, lalu ditulisnya hingga menyentuh hati. Terima kasih Pak Edi.

03 Nov
Balas

Terima kasih sekali atas apresiasinya, Pak Nugroho. Cerpen ini tentu masih banyak kelemahannya, Pak.

03 Nov

Cerita yang nonjok banget pak, sypun tertonjok krn sy guru honorer, hehehe. Sukses selalu dan barakallah

03 Nov
Balas

Wah, mohon maaf kalau begitu, Bu.

03 Nov

Ada sisi guru yang tidak tergantikan oleh profesi lain Pak Edi...

03 Nov
Balas

Betul sekali, Bu Rini. Makanya Bu Rini memilih profesi guru, bukan?

03 Nov

Tulisan nya sangat menyentuh hati.saya ingin belajar menulis cerpen

03 Nov
Balas

Terima kasih sekali atas apresiasinya, Bu Yanti. Tentu Bu Yanti juga mampu menulis cerpen. Ayo, jangan ragu, Bu.

03 Nov

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali