Edi Prasetyo

Tinggal di Purbalingga, Jawa Tengah. Lulusan IKIP Yogyakarta jurusan PMP-KN. Saat ini bertugas sebagai Kepala SMA Negeri 1 Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah....

Selengkapnya

Kekerasan Verbal Guru, Justru Lebih Berbahaya

"Dasar bodoh kamu! Masa sih soal seperti ini saja tidak bisa? Saat hamil dulu, memangnya emakmu ngidam apa sih?" ujar seorang guru wanita dengan sinis kepada seorang siswa putri kelas 6 SD yang tidak bisa mengerjakan soal matematika.

Mendengar ucapan guru kelasnya yang seperti itu, siswa tersebut tak bisa menjawab. Anak itu hanya diam. Hatinya terasa sangat pedih. Karena tak kuat menahan kepedihan hatinya, mata anak itu pun mulai basah. Segera ia mengambil tas dan kemudian berlari meninggalkan kelas. Teman-temannya hanya memandanginya pergi tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun.

Tak berselang lama, anak itu datang lagi ke sekolah diantar emaknya. Kepada guru kelas 6 tersebut, emak anak itu menanyakan kebenaran laporan anaknya tentang ucapan guru tersebut yang dia nilai telah merendahkannya. Namun guru itu berkilah. Ia mengatakan tak merasa mengucapkan kata-kata seperti itu. Guru itu justru meminta anak tersebut meminta maaf kepadanya karena telah membuat fitnah kepadanya. Siswa sekelas hanya bisa saling pandang tanpa mau membela temannya tersebut.

Dengan terpaksa, anak itu akhirnya mau meminta maaf kepada guru kelasnya itu. Namun setelah meminta maaf, dengan menahan sakit hati yang semakin pedih, anak itu pamit pulang. Sampai sekarang, sudah seminggu ini, anak tersebut mogok tidak mau sekolah.

Mengetahui anaknya tidak mau bersekolah, orang tuanya benar-benar merasa sangat sedih. Mereka telah membujuknya dengan berbagai cara, namun anaknya tetap tidak mau bersekolah. Anak itu mengatakan kekecewaannya yang luar biasa atas sikap gurunya yang tidak mau mengakui kesalahannya, tapi malah berbalik menyalahkannya.

Orang tua siswa itu pun benar-benar merasa kecewa kepada guru tersebut. Emak anak itu bahkan mengungkapkan kekesalannya dengan menyumpahi guru wanita yang sedang hamil 7 bulan itu, agar menerima akibat dari ucapan kasarnya. Tadi pagi, guru itu mengatakan kepada teman-teman sesama guru wanitanya, bahwa semalam dia mengalami flek pada vaginanya yang sangat mengkhawatirkannya.

Apa yang telah dilakukan guru tersebut merupakan satu contoh kekerasan verbal yang dilakukan seorang guru kepada siswanya. Meski hanya dengan menggunakan kata-kata, ternyata telah menimbulkan sakit hati yang luar biasa bagi siswa dan orang tuanya. Buktinya, anak tersebut tak lagi mau bersekolah. Sementara emaknya bahkan sampai mengeluarkan kutukan kepadanya.

Sebagai guru, apa pun alasannya, kita hendaknya benar-benar mampu mengendalikan diri untuk tidak melakukan kekerasan kepada siswa, baik kekerasan fisik maupun kekerasan verbal. Berdasarkan contoh kasus di atas, dapat kita ketahui, bahwa kekerasan verbal yang dilakukan guru ternyata seringkali justru lebih berbahaya dibandingkan dengan kekerasan fisik.

Mari kita berusaha untuk mewujudkan sekolah sebagai taman belajar. Sekolah sebagai tempat yang menyenangkan bagi setiap siswa dan guru untuk melaksanakan proses pembelajaran. [*]

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

bisa dipraktikkan... ternyata benar hasilnya. Si Emak cabut dari sekolah itu dan hijrahkan anaknya ke sekolah sebrang desa.

01 Nov
Balas

Sepertinya sikap orang tua anak tsb mau seperti itu, Pak. Ini satu kerugian bagi nama baik sekolah tentunya.

01 Nov

wow bgs sekali ilustrasinya pak, smoga jd pelajaran bagi para pendidik. Pada era milenium ini guru dituntut tidak sekadar mengajar tetapi juga mendidik. Selain itu iapun hrs menjadi teladan bagi diri dan murid muridnya. Pendidikan karakter bukan sekedar slogan akan tetapi harus diimplementasikan dengan penuh ketulusan, supaya menbekas dakam diri pendidik dan peserta didik.

01 Nov
Balas

Betul sekali, Pak Tarno. Sebagai pendidik kita benar2 dituntut untuk mampu menjadi teladan, termasuk dlm kesabaran. Pendidikan karakter tdk cukup diucapkan tapi hrs dibuktikan dg tindakan yg diawali dari sikap dan perilaku guru. Kpn Pak Tarno mau menulis lagi di Gurusiana?

01 Nov

wow bgs sekali ilustrasinya pak, smoga jd pelajaran bagi para pendidik. Pada era milenium ini guru dituntut tidak sekadar mengajar tetapi juga mendidik. Selain itu iapun hrs menjadi teladan bagi diri dan murid muridnya. Pendidikan karakter bukan sekedar slogan akan tetapi harus diimplementasikan dengan penuh ketulusan, supaya membekas dalam diri pendidik dan peserta didik.

01 Nov
Balas

Trimakasih penyegarannya Pak....semoga semakin menyadarkan para guru, bahwa setiap individu memiliki kelebihan masing-masing

01 Nov
Balas

Sama2, Bu. Dengan memahami kelebihan maupun kekurangan setiap siswa, diharapkan setiap guru mampu berbuat yg sesuai dg kebutuhan setiap siswa. Kelebihan siswa kita kembangkan, kekurangannya kita atasi.

01 Nov

Astaghfirullah, kekerasan verbal yang dapat memetikan semangat dan kreativitas anak. Seorang guru seharusnya memilki "cinta yang tidak biasa" bagi anak-anak yang tergolong "istimewa" tersebut. Jazakallah khoir untuk tulisan yang mengingatkan ini. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah, pak kepala sekolah.

01 Nov
Balas

Iya, Bu. Ini yg kadang tdk setiap guru mampu memahaminya. Ada sebagian guru yg mengira, bahwa guru bagaikan "penguasa di kelas" shg seolah bebas berkata maupun berbuat apa saja kpd siswa. Salam sehat dan sukses juga, Bu.

01 Nov

Betul sekali pak, mulutmu harimaumu, menjaganya suatu keniscayaan. Sukses selalu dan barakallah

01 Nov
Balas

Betul, Bu. Kita hrs selalu hati2 dg lisan kita.

01 Nov

Benar sekali Pak, sebagai guru kita mesti punya kesabaran luar biasa dalam bersikap, karena tumpah nila setitik rusaklah susu sebelanga. apa yang kita tanamkan tentang kebaikan jadilah rusak saat anak didik kita sudah membenci kita karena kata yang menyakitkan hati. Terima kasih Pak guru sudah mengingatkan kita sebagai guru muda yang juga harus terus belajar mengasah kemampuan terutama kesabaran.

01 Nov
Balas

Betul sekali, Bu. Sebagai guru kita dituntut memiliki kesabaran yg tanpa batas, termasuk kpd siswa. Sukses selalu Bu Dewi.

01 Nov

Seharusnya sekolah bisa dan harus mewujudkan sekolah ramah anak bukan kekerasan apapun bentuknya. Terimakasih pak, untuk pengingat-ingat sebagai pamong disekolah.

01 Nov
Balas

Betul, Bu. Sekolah yg ramah anak, yg menyenangkan, mengasyikkan, mencerdaskan, dan hal-hal baik lainnya harus bisa kita wujudkan.

01 Nov

Cerita bapak hampir banyak dialami oleh siswa yang notebene kemampuannya dibawah rata2,, seharusnya sbg seorang pendidik guru tsb. harus faham akan kondisi peserta didik dengan berbagai macam kecerdasan yang dimiliki, karena tidak semua memiliki kecerdasan yang sama. Interopeksi diri apakah metode yang disampaikan bisa diterima oleh semua peserta didik,, hingga semua bisa menerima dan memahami apa yang telah diajarkan... Menyikapi dari sisi yang lain, guru pun perlu dimengerti kondisinya,, apalagi dicerit itu tertulis seorang ibu guru yang sedang hamil 7 bulan,, entah apa yang sedang dialami ibu guru hamil tsb.hingga bisa mengeluarkan kata2 yang tidak layak,, Atau jika memang sdh karakter bawaan maka sudah selayaknyalah ibu guru tsb menyadari kekeliruannya dan bisa memperbaiki agar tdk ada lagi anak2 yang mentalnya tersakiti. Remainder for self too. Salam kenal bapak....

01 Nov
Balas

Terima kasih atas komentar Ibu yg sangat lengkap. Seharusnya guru memang memiliki kesabaran yg luar biasa serta tdk cenderung hanya menyalahkan siswa. Introspeksi guru memang benar2 sangat dibutuhkan. Salam kenal juga, Bu.

01 Nov

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali