Edi Prasetyo

Tinggal di Purbalingga, Jawa Tengah. Lulusan IKIP Yogyakarta jurusan PMP-KN. Saat ini bertugas sebagai Kepala SMA Negeri 1 Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah....

Selengkapnya
Kutemukan Cinta di Bukumu

Kutemukan Cinta di Bukumu

Semula, aku benar-benar tak menghiraukanmu. Sungguh! Apalagi tertarik dan berharap bisa mendapatkan cintamu. Tak ada secuil pun rasa ketertarikan diriku pada dirimu. Aku tak berbohong! Bukan karena dirimu tak cantik! Kuakui, kamu itu perempuan cantik. Bahkan, sangat cantik menurutku. Tapi, aku benar-benar tak tertarik.

Meski kuakui kamu itu perempuan cantik, ada hal-hal yang membuatku tak tertarik kepadamu. Bagiku, kamu itu perempuan sombong! Perempuan yang tak punya keinginan bergaul dengan orang lain. Apalagi dengan laki-laki sepertiku. Memandang pun seolah tak mau. Mengobrol, apalagi! Padahal, aku ini tetanggamu! Rumah kita pun hanya berjarak tak lebih dari seratus meter. Tapi, mengapa tak ada keinginan sedikit pun darimu meski sekadar untuk bertegur-sapa denganku? Menurut pengamatanku, kamu itu perempuan yang lebih suka menyendiri. Sepertinya, kamu tak butuh orang lain. Itulah sebabnya maka aku sama sekali tak tertarik kepadamu.

Namun sejak setahun yang lalu, penilaianku padamu langsung berubah. Ini terjadi, setelah aku membaca buku karyamu yang aku beli di toko buku. Saat aku mendatangi toko buku, aku tertarik pada buku bersampul merah jambu. Aku langsung mengambil dan mengamatinya. Ternyata itu buku karyamu. Aku pun kemudian membeli buku itu dan kemudian membacanya.

Begitu membaca buku karyamu, perasaan kagum kepadamu langsung muncul di hatiku. Aku benar-benar tak menyangka, ternyata kamu perempuan hebat. Buku karyamu benar-benar bagus. Selain karena kemampuan kamu dalam memilih kata yang kamu rangkai menjadi kalimat demi kalimat yang sungguh memesona, juga karena isinya yang sarat makna untuk memberi pencerahan kepada pembaca. Membaca buku karyamu, aku benar-benar merasa hanyut pada peristiwa maupun situasi yang kamu gambarkan dalam kata-kata. Aku benar-benar merasa seolah aku berada di dekat setiap peristiwa dan situasi yang kamu gambarkan dalam bukumu.

O, inilah rupanya yang menyebabkan mengapa sepertinya kamu tak mau bergaul dengan orang lain. Kamu lebih suka menyendiri karena kamu ingin mencari inspirasi, yang kemudian kamu tuangkan dalam tulisan-tulisanmu, termasuk buku-bukumu. Aku benar-benar merasa malu karena telah memberi penilaian tidak baik pada dirimu. Terus terang, aku pun kemudian mempunyai keinginan untuk bisa menulis buku seperti dirimu.

"Apakah saya boleh belajar menulis kepadamu, Mbak Narti?" Kukirimkan pertanyaan itu kepadanya melalui aplikasi WA ke nomor yang ia cantumkan pada profil penulis di bukunya.

"Tentu saja boleh, Mas. Saya malah senang jika bisa berbagi ilmu kepada orang lain, termasuk kepada Mas Yanto. Tapi apa benar Mas Yanto belum bisa menulis?" Narti langsung menjawab kiriman WA-ku.

"Benar, Mbak! Saya memang benar-benar belum bisa menulis, dan ingin bisa menulis seperti Mbak Narti."

Ia pun kemudian membalas dengan mengirimkan emoji gambar dua jempol dan wajah orang tersenyum.

Sejak saat itulah aku mulai sering berkomunikasi dengan Sunarti, perempuan yang dulunya pernah aku anggap sebagai orang sombong itu. Komunikasi kami memang tak selalu melalui tatap muka langsung. Bahkan yang sering melalui WA maupun email. Melalui dua aplikasi itu, ia banyak mengajariku tentang langkah-langkah membuat tulisan, baik cerpen, puisi, esay, maupun yang lainnya.

Dalam waktu dua bulan setelah aku belajar menulis kepadanya, aku sudah mulai bisa membuat cerpen atau tulisan lainnya, meski dalam bentuk yang masih sangat sederhana. Aku pun kemudian mulai berani mengirimkan tulisan-tulisanku kepadanya melalui email, untuk mendapat komentar, koreksi, saran, kritikan, dan dorongan semangat. Atas berbagai komentar, koreksi, saran, kritikan, dan dorongan semangat yang diberikan olehnya, aku kemudian merasa mulai bisa membuat tulisan yang agak pantas untuk dipublikasikan.

Dari perasaan kagum atas buku karyanya, yang kemudian berlanjut dengan aku belajar menulis kepadanya, lama-lama aku sering ngobrol dengannya, baik secara langsung maupun melalui dunia maya. Kuakui, sebagai laki-laki normal aku kemudian mulai tertarik kepadanya. Awalnya, aku memang agak ragu untuk membicarakan hal-hal yang menyangkut asmara. Aku khawatir kalau dia akan tak suka mendengarnya.

Namun ternyata dugaanku keliru. Keberanianku mengatakan hal-hal yang menyangkut asmara, ternyata tak membuatnya marah kepadaku. Meski sebagai perempuan ia tak secara terus terang menyatakan ketertarikannya kepadaku, namun dari sorot matanya, senyumannya, kata-katanya, aku bisa menyimpulkan kalau Narti tak keberatan untuk menerima cintaku.

Aku pun kemudian lebih berani untuk mengungkapkan perasaan cintaku kepadanya. Sampai pada suatu malam, saat aku bertandang ke rumahnya, dengan terus terang aku mengatakan bahwa aku mencintainya. Dengan meneteskan air mata, ia menyatakan menerima cintaku kepadanya. [*]

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Romantis dan romantis

04 Jul
Balas

Hehehe...diromantis-romantiskan, Bu.

04 Jul

Alhamdulillah....so sweet. Gak nyangka ah...pak kepala sekolah bisa nulis cerpen yang romantis. Lanjut...pak. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

04 Jul
Balas

Hehehe...romantis? Salam sehat dan sukses juga, Bu.

04 Jul

Ah, romantisnye... Mesti dilanjutkan Pak!

04 Jul
Balas

Hhhhh....Bgmn kalau Pak Giryo yg melanjutkan?

05 Jul

Ah, romantisnye... Mesti dilanjutkan Pak!

04 Jul
Balas

Ah, romantisnye... Mesti dilanjutkan Pak!

04 Jul
Balas

Ah, romantisnye... Mesti dilanjutkan Pak!

04 Jul
Balas

Ah, romantisnye... Mesti dilanjutkan Pak!

04 Jul
Balas

Ah, romantisnye... Mesti dilanjutkan Pak!

04 Jul
Balas

Ah, romantisnye... Mesti dilanjutkan Pak!

04 Jul
Balas

Ah, romantisnye... Mesti dilanjutkan Pak!

04 Jul
Balas

Ah, romantisnye... Mesti dilanjutkan Pak!

04 Jul
Balas

Ah, romantisnye... Mesti dilanjutkan Pak!

04 Jul
Balas

Ah, romantisnye... Mesti dilanjutkan Pak!

04 Jul
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali