Edi Prasetyo

Tinggal di Purbalingga, Jawa Tengah. Lulusan IKIP Yogyakarta jurusan PMP-KN. Saat ini bertugas sebagai Kepala SMA Negeri 1 Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah....

Selengkapnya
Lik Sarwin Telat Kawin

Lik Sarwin Telat Kawin

Sungguh, kawin itu menyenangkan. Betapa tidak, dua orang pria dan wanita, yang semula bukan siapa-siapa, kemudian bisa hidup bersama dalam ikatan keluarga. Mereka bisa merasakan apa saja yang semula hanya bisa mereka bayangkan. Mereka bisa duduk bersama saling pandang penuh gelora asmara. Mereka bisa saling cubit, bisa berpelukan, saling menyuapi makanan, atau yang lainnya. Mereka pun bisa memadu kasih untuk mereguk manisnya madu asmara kapan saja, tanpa khawatir akan berdosa. Mereka juga tak perlu khawatir akan digerebek petugas keamanan atau diarak keliling oleh warga. Pokoknya, kawin itu benar-benar menciptakan berjuta kebahagiaan bagi suami-istri. Begitulah kata kebanyakan orang.

Namun ternyata, tidak demikian dengan pendapat Lik Sarwin. Bagi lelaki adik ibuku itu, kawin itu akan bisa membuat hidupnya bertambah sengsara. Banyak kesulitan hidup yang telah memenuhi benaknya. Jika dia kawin, pamanku itu khawatir tak akan mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Saat ini saja, untuk bisa mencukupi kebutuhan makan sehari-hari bagi dirinya, dia sudah cukup kesusahan. Bagaimana jadinya jika dia harus mencukupi kebutuhan hidup istri dan anak-anaknya? Apakah hidup keluarganya tidak akan bertambah sengsara? Seperti itulah yang selama ini ada dalam pikirannya.

Karena itu, meski saat ini usianya sudah mencapai 48 tahun, dia tetap belum mau kawin. Nasihat orang tua dan saudara-saudaranya agar dia cepat kawin, tetap tak mampu mengubah pikirannya. Sebutan Bujang Lapuk yang disematkan kepadanya, juga tak dihiraukannya. Pokoknya, dia tetap belum mau kawin jika belum merasa mampu untuk membuat keluarganya hidup bahagia. Jika terpaksa sampai mati tidak kawin juga, baginya itu lebih baik daripada memaksa kawin tapi kemudian membuat istri dan anak-anaknya hidup menderita. Bukankah orang kawin itu bertujuan untuk mewujudkan kebahagiaan hidup keluarga dan bukan penderitaan? Begitu pikirnya.

"Jadi kamu masih tetap belum mau kawin, Sarwin?" Nenek saya bertanya kepadanya malam itu.

"Belum, Mak. Pokoknya Sarwin tetap belum mau kawin kalau belum merasa yakin mampu membahagiakan keluarga," jawabnya lirih.

Emaknya mendesah. Selalu seperti itu jawabannya setiap ditanya mengapa dirinya belum juga mau kawin.

"Kamu sudah tua lho, Win. Sekarang umurmu sudah 48 tahun. Teman-teman sebayamu sudah pada punya anak dan bahkan ada yang hampir punya cucu. Apa kamu sama sekali tidak ingin seperti mereka, Win?" kata emaknya sembari menepuk-nepuk pundaknya. Sarwin pun hanya menggeleng.

"Jika sampai tua kamu belum juga mau berkeluarga, hidupmu akan tambah sengsara lho, Win. Emak dan bapakmu tentu tak bisa selamanya hidup bersamamu. Pada saatnya nanti, emak dan bapakmu tentu akan meninggalkan dunia ini. Kalau itu sudah terjadi dan kamu belum juga kawin, terus siapa yang akan mengurus dirimu, Win? Kalau kamu sedang sakit misalnya, siapa yang akan merawatmu? Siapa? Coba kamu pikirkan itu!"

Wajah laki-laki itu tetap tak berubah. Tetap tanpa ekspresi dan sulit dipahami. Namun sebenarnya, dia mengakui kebenaran kata-kata emaknya.

"Apa ada sih Mak, perempuan yang mau kawin dengan laki-laki yang tak akan bisa membuat hidupnya bahagia?" tanya Sarwin pelan sembari memandangi wajah keriput emaknya.

"Kalau kamu mau, Emak tentu bisa mencarikan. Tapi tolong, mulai sekarang buang jauh-jauh pikiran-pikiranmu yang selalu mengkhawatirkan masa depanmu," ujar wanita tua itu.

Sarwin mengangguk pelan. Emaknya menangkap, bahwa anggukan anak bungsunya itu merupakan tanda persetujuan atas kata-kata yang baru saja diucapkannya.

Tak sampai sebulan, emak Sarwin telah menemukan perempuan yang dimaksudkan anaknya. Namanya Surtinah. Perempuan yatim-piatu yang hidup sebatang kara. Meski sudah berusia 40 tahun, tapi dia masih perawan. Setelah dipertemukan, keduanya pun merasa mempunyai kecocokan. Tak berselang lama, mereka berdua pun kemudian menikah.

"Mengapa kamu mau kawin dengan laki-laki sepertiku, Surti?" tanya Sarwin sebelum mengawali malam pertama mereka.

"Karena aku sangat mencintaimu, Mas?" Surtinah menjawab tanpa merasa ragu sedikit pun.

"Tapi dengan menjadi istriku, hidupmu tak akan bahagia, Surti. Aku ini orang miskin yang tak punya apa-apa."

Surtinah hanya tersenyum. Sambil bergayut di pundak suaminya, perempuan yang cukup manis itu pun kemudian memberi penjelasan.

"Kebahagiaan sebuah keluarga itu tidak semata-mata didasarkan pada banyaknya harta, Mas. Lebih-lebih bagi wanita yang sudah biasa hidup tanpa harta seperti aku ini. Bagiku, setiap hari bisa makan dan bisa tidur dengan nyenyak, itu sudah lebih dari cukup. Aku benar-benar siap hidup tanpa harta. Percayalah, itu tak akan sampai membuat hidupku tidak bahagia, Mas."

Sarwin tersentak sekaligus kagum mendengar penjelasan istrinya. Laki-laki itu pun kemudian memeluk erat-erat perempuan yang baru saja dinikahinya.

"Aku benar-benar kagum kepadamu, Surti. Setelah mendengar penjelasanmu, aku merasa menyesal mengapa tidak dari dulu aku menikahimu."

"Jangan berkata begitu, Mas. Tidak ada kata terlambat bagi kita. Meski kita menikah pada usia yang sudah cukup tua, tapi percayalah bahwa Allah akan tetap memberikan kebahagiaan kepada kita."

Sarwin semakin mengeratkan pelukannya. Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka berdua pun merasakan kenikmatan madu asmara seperti yang sering diceritakan teman-teman mereka. [*]

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Menemukan Mutiara. OK.. Pak.

14 Mar
Balas

Mutiara di dasar samudra ya, Pak? Salam kompak.

14 Mar

Alhamdulillah akhirnya Lik Sarwin bertemu dengan jodohnya. Benar yang diungkapkan Surti bahwa kebahagiaan tidak terletak pada banyaknya harta. Barakallah Pak

14 Mar
Balas

Betul, Bu. Di situlah antara lain kekuatan wanita untuk mampu menyadarkan dan meyakinkan pria.

14 Mar

menarik ceritanya Pak

14 Mar
Balas

Terima kasih sekali atas apresiasi Bu Melisa.

14 Mar

cerita menarik. Lama sekali tidak membaca gurusiana terutama karya Pakde Edi, Matur nuwun kiriman bukunya Pakde. maaf baru sekarang bisa mengabari. semoga sehat selalu. aamiin

14 Mar
Balas

Lha iya, selama ini Pak Giri kemana saja kok tak lagi mau menulis? O ya. Ini ada dua buku kumpulan cerpen saya. Kalau berminat, boleh datang ke sekolah.

14 Mar

Di awal aku membaca, timbul rasa ngin menanggung biaya pernikahannya. Tapi rupanya mereka sudah menikah. Barakallah Pak Edi

14 Mar
Balas

Iya, Pak. Keraguan Sarwin hilang setelah memperoleh penjelasan dari Surtinah. Semoga mereka akan hidup bahagia.

14 Mar

Cerita luar biasa...bisa menginspirasi yang belum mau menikah Pak. Sesungguhnya rizki kita sudah ada yang mengatur Ya Pak. Bahkan ada rizki yang yang datang karena pernikahan.

14 Mar
Balas

Betul sekali, Bu Noor. Itulah antara lain kesalahan laki-laki yang takut menikah, termasuk Sarwin. Padahal Allah sering memberi rezeki kepada hamba-Nya dari arah yang tidak disangka-sangka. Untung Surtinah mampu mengubah pikiran Sarwin.

14 Mar

Ceritanya mengalir begitu saja,shingga smakin ending smakin asyik membacanya...akhirnya Sarwin pun bahagia bersama Surtinah ya pak...

17 Mar
Balas

Terima kasih atas apresiasi Ibu. Ya Bu, semoga saja Sarwin dan Surtinah hidup bahagia.

17 Mar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali