Edi Prasetyo

Tinggal di Purbalingga, Jawa Tengah. Lulusan IKIP Yogyakarta jurusan PMP-KN. Saat ini bertugas sebagai Kepala SMA Negeri 1 Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah....

Selengkapnya

Suami-Istri Berbeda Pilihan

"Besok mau memilih siapa, Kang?" Karti bertanya pada suaminya kemarin malam.

"Ya terserah aku to, Bu. Mau memilih yang ini atau yang ini, sesukaku saja. Wong memilih itu bebas dan rahasia kok," jawab Trimo, suami Karti sembari menunjuk-nunjuk gambar capres-cawapres yang tergeletak di atas meja.

"Alah, sama istri saja kok tidak mau jujur to, Kang? Kalau aku besok mau memilih yang ini saja, karena kata orang calon ini baik, tidak seperti calon ini yang kata orang banyak keburukannya," kata Karti juga sambil menunjuk-nunjuk gambar capres-cawapres.

"We lha, kamu itu jadi orang mbok jangan mudah percaya pada kata orang to, Bu. Apa kamu sudah tahu persis kalau calon yang ini punya banyak keburukan?" Ujar Trimo pelan kemudian meneguk teh hangat yang disediakan istrinya.

"Belum sih, Kang."

"Kalau belum, mengapa kamu ikut-ikutan mengatakan kalau dia itu banyak keburukannya? Lagi pula, menyebut keburukan orang lain itu tidak baik. Yang seharusnya kita sebut itu kebaikan orang, bukan malah keburukannya. Kamu tahu itu kan, Bu?"

"Iya sih, Kang."

"Nah, kalau sudah tahu, tidak perlu kamu ikut-ikutan mengatakan bahwa calon yang satu buruk sedang calon lainnya baik. Kita harus yakin, bahwa kedua calon tentu punya keburukan. Tapi, mereka tentu juga punya banyak kebaikan. Kalau bukan orang baik, masa sih mereka bisa dicalonkan sebagai capres dan cawapres?" Ujar Trimo memberi penjelasan kepada istrinya.

"Betul juga katamu, Kang. Tapi, aku sudah mantap kalau besok aku akan memilih yang ini," ujar Karti sembari menunjuk gambar salah satu capres-cawapres.

"Terserah kamu saja, Bu. Itu merupakan hak politik kamu sebagai warga negara. Meski aku ini suamimu, sama sekali aku tak boleh memaksamu dalam memilih," kata Kang Trimo.

"Kalau pilihan kita nantinya berbeda bagaimana, Kang?"

"Berbeda ya tidak apa-apa. Percayalah Bu, meskipun pilihan kita berbeda, tapi pada akhirnya presiden kita akan sama."

"Benar juga katamu, Kang."

"Kita berdoa saja agar pemilihan presiden dan wakil presiden besok berjalan lancar dan aman. Siapa pun yang terpilih nantinya, harus kita terima dan kita dukung. Semoga saja mereka berdua bisa memimpin negara dengan baik dan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat."

Tak disangka, meski suami-istri itu sama sekali tak paham soal politik, namun ternyata mereka memiliki sikap politik yang layak untuk ditiru. [*]

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Memang selayaknya jadikan perbedaan sebagai bentuk pengayaan wawasan kita. Barakallah pak Edi.

15 Apr
Balas

Betul sekali, Pak Agus. Semoga kita bisa bersikap seperti itu. Amin.

15 Apr

Kisah inspiratif pak edi, terima kasih pembelajarannya, berbeda tetap satu saling toleransi. Keren. Barakallah, sukses selalu.

15 Apr
Balas

Dalam berpolitik pun tetap perlu bertoleransi ya, Bu? Terima kasih, Bu Rita. Sukses juga untuk Bu Rita.

15 Apr

Alhamdulillah, ceritanya mak nyus walau suami istri beda pilihan. Barakallah Pak Edi

15 Apr
Balas

Sejak kemarin rasanya panas terus sehingga perlu yang adem-adem ya, Pak Syukri? Terima kasih, Pak.

15 Apr

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali