Edi Prasetyo

Tinggal di Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah. Sejak masih menjadi mahasiswa gemar menulis di koran. Buku-buku yang telah ditulis berjudul Da...

Selengkapnya
Tatapan Tajam Mata Susiana

Tatapan Tajam Mata Susiana

Kuakui, Susiana itu perempuan cantik. Kedua matanya yang bening, hidungnya yang mancung, bibirnya yang sensual, kulitnya yang putih bersih, dan tubuhnya yang semampai, kurasa cukup bagiku untuk menilainya sebagai perempuan cantik. Namun ada satu hal pada dirinya yang tidak aku sukai . Dia itu wanita galak dan mudah curiga pada laki-laki yang tertarik pada dirinya. Setiap ada laki-laki yang ingin mendekatinya, ia sudah lebih dahulu menilainya tidak baik. Karena itu, banyak laki-laki yang lebih memilih mundur teratur sebelum dipermalukan olehnya.

Aku pun demikian. Meski sejak semester satu aku telah mengenalnya karena dia itu teman seangkatanku, namun aku tak punya niat sedikit pun untuk mendekatinya. Bagiku, perempuan cantik bukan hanya Susiana. Masih sangat banyak perempuan cantik lain yang tidak berperilaku seperti dia. Jadi, untuk apa aku mesti mendekatinya? Karena itu, meski aku sering ngobrol dengannya, namun obrolan kami sama sekali tak pernah menyinggung soal asmara.

Namun sejak kemarin sore, semuanya berubah. Aku yang semula tak secuil pun memiliki ketertarikan pada dirinya, tiba-tiba jadi ingin selalu berada di sampingnya. Semua itu berawal dari tatapan matanya yang menggetarkan jiwaku. Ya, saat kemarin sore aku lewat di depan rumah kosnya, aku memergoki dirinya yang berpenampilan sangat cantik sedang berfoto dengan berbagai gaya. Entah mengapa, naluri laki-lakiku kemudian mendorongku untuk memandanginya. Pada saat aku tengah memandangi sambil mengaguminya, tiba-tiba kedua mata beningnya menatapku dengan sangat tajam.

Tatapan matanya yang sangat tajam disertai senyum manisnya itulah yang kemudian membuatku hampir tak bisa tidur semalaman. Aku benar-benar merasa heran pada sikap Susiana yang tidak biasa itu. Mungkinkah ini merupakan pertanda kalau dia mulai tertarik pada diriku? Ah, itu tidak mungkin! Meski demikian, bagiku malam tadi berlalu dengan sangat pelan. Aku benar-benar sudah tak sabar untuk segera bertemu kembali dengannya pagi ini.

“Mengapa kemarin sore kamu memandangiku dengan penuh nafsu seperti itu, Wasis?” ujar Susiana yang membuatku salah tingkah.

“Apa maksudmu, Susiana?” Aku benar-benar heran atas ucapannya.

“Kamu tidak perlu berpura-pura, Wasis. Aku sudah sangat paham dengan mata laki-laki. Katakan terus terang, apakah kamu mulai tertarik pada diriku?” desak Susiana sambil duduk di sampingku.

Gila! Ini benar-benar pertanyaan yang tidak mudah aku jawab. Aku pun bingung untuk menjawabnya.

“Ayo katakan terus terang saja, Wasis. Kamu tidak perlu ragu-ragu. Apakah kamu mulai tertarik padaku?” Sekali lagi Susiana mendesakku sembari menatapku dengan sangat tajam. Aku pun langsung menunduk karena tak kuat dengan tatapan matanya itu.

“Ya,” jawabku kemudian dengan suara pelan sembari mengangguk-anggukkan kepala.

“Benarkah apa yang aku dengar ini, Wasis?” ucap Susiana seakan masih meragukan pengakuanku.

“Benar, Susiana. Aku mulai tertarik padamu.” Aku menjawab pelan sembari memandangi wajah Susiana yang begitu manis. Kulihat dia tersenyum.

“Alhamdulillah. Inilah pengakuanmu yang sudah cukup lama ingin aku dengar, Wasis. Kalaupun selama ini banyak laki-laki yang menilaiku sebagai perempuan galak, itu memang aku akui. Tapi itulah caraku untuk menemukan laki-laki idaman yang aku dambakan untuk bisa mendampingiku sebagai suamiku kelak. Kini, laki-laki idamanku itu sudah aku temukan. Laki-laki itu adalah kamu, Wasis,” ucap Susiana tanpa ragu sedikit pun.

Aku terperangah mendengar pengakuan Susiana. Aku benar-benar tak percaya jika perempuan yang selama ini aku nilai tak mungkin akan tertarik padaku itu akhirnya mengeluarkan kata-kata seperti itu.

“Aku merasa memiliki kecocokan denganmu, Wasis. Kamu itu bukan hanya laki-laki ramah, melainkan juga penyabar. Meski sudah cukup lama kita berteman dan sering ngobrol berdua, namun selama ini sama sekali kamu belum pernah membicarakan soal asmara. Semula dalam hati aku sempat bertanya-tanya, mungkinkah kamu sama sekali tak memiliki rasa tertarik pada diriku? Namun sejak kamu memandangku dengan pandangaan seperti itu kemarin sore, aku merasa yakin kalau kamu mempunyai rasa cinta kepadaku. Sebab, mata laki-lakimu sudah dengan sangat jelas mengatakan semua itu kepadaku,” ucap Susiana kemudian menjabat kedua tanganku dengan sangat mesra.

Aku benar-benar terharu. Sama sekali aku tak menyangka jika akhirnya aku dan Susiana jadian. Ya Allah, jika Engkau memang menakdirkan aku dan dia berjodoh, jadikanlah kami sebagai suami-istri yang senantiasa taat kepada-Mu. [*]

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Saya ketemu Jeng Sus di Lereng Lawu Pak. Secantik turis dari Belgium. Sugeng enjang sinambi ngunjuk benteran. Nuwun

10 Jul
Balas

Hhhhh... O iya to, Pak? Kok dia pergi sendiri tanpa mengajak saya ya? Sugeng enjing sinambi ngunjuk teh anget, Pak.

10 Jul

Teh Kemuning Pak, monggo!

10 Jul

Wah, seger sanget niku. Maknyus...

10 Jul

Wah, seandainya aku jadi Wasis. He..he.. Ternyata Susiana punya trik khusus untuk memilih pasangan hidup. Berarti kita harus hati-hati dengan cewek galak, jangan-jangan.... Barakallah pak Edi.

10 Jul
Balas

Hhhhh... Jangan-jangan pengalaman pribadi ya, Pak Agus. Amin. Sukses selalu untuk Pak Agus.

10 Jul

Wah, akhirnya... Sukses selalu dan barakallahu fiik

10 Jul
Balas

Ya, Bu. Ternyata benar, bahwa akhir itu lebih baik daripada permulaan. Sukses juga untuk Ibu.

10 Jul

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali