Edi Prasetyo

Tinggal di Purbalingga, Jawa Tengah. Lulusan IKIP Yogyakarta jurusan PMP-KN. Saat ini bertugas sebagai Kepala SMA Negeri 1 Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah....

Selengkapnya
Terima Kasih Telah Mencintaiku, Pak Guru!

Terima Kasih Telah Mencintaiku, Pak Guru!

“Hayo! Pak Guru sedang melamun, ya?” goda Koyati, seorang muridku kelas XII MIPA-1 membuyarkan lamunanku, saat aku duduk di kursi guru sambil menunggui murid-muridku yang sedang mengerjakan soal latihan.

“Ah, enggak! Melamun memang mikir kamu apa?” jawabku agak gugup sekenanya. Teman-temannya yang lainpun langsung tertawa. Gadis belia berparas cantik itu pun tersipu. Pipinya langsung memerah.

Sebenarnya, godaan murid perempuan seperti Koyati, maupun jawaban yang aku berikan atas godaannya tadi, merupakan hal biasa yang sering aku alami. Sebagai guru lajang, memang aku sering menerima godaan seperti itu dari murid-muridku. Namun entah mengapa, saat aku melihat dia tersipu dan pipinya memerah, hatiku benar-benar bergetar. Ada perasaan lain yang tak sekadar perasaan antara guru dengan muridnya, tapi sudah antara laki-laki dan perempuan muda.

Sejak saat itu, aku memang jadi sering memikirkan Koyati. Kuakui, gadis berkulit putih putri pengurus komite sekolahku itu seolah telah mencuri hatiku. Sebenarnya, ini hal yang biasa dirasakan oleh setiap laki-laki dewasa sepertiku. Apalagi dengan statusku yang masih lajang dan telah memiliki pekerjaan tetap, wajar kan kalau aku mulai memikirkan perempuan? Tapi mengapa harus Koyati, muridku sendiri? Ah, masa bodo! Kalau sudah menyangkut cinta, tak lagi peduli siapa dengan siapa. Yang penting antara laki-laki dengan perempuan. Biar antara guru dengan murid, tidak ada larangan, bukan?

Entah mengapa, aku pun menjadi lebih rajin dan lebih bersemangat dalam bekerja. Setiap hari, kehadiranku di sekolah lebih kupercepat dari biasanya. Meski sebenarnya jadwalku mengajar di kelas XII MIPA-1 hanya seminggu sekali, namun setiap hari aku ingin selalu bisa berjumpa dengan Koyati. Jika sehari saja tak berjumpa dengannya, rasanya hati ini benar-benar tersiksa. Dan kurasa, gadis itu pun suka jika berjumpa dan ngobrol denganku.

Setelah cukup lama aku memendam rasa, akhirnya kemarin malam aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya. Melalui aplikasi WA, aku tulis perasaan yang ada di hatiku.

“Boleh kan kalau malam ini pak Guru menyatakan sesuatu kepadamu, Koyati?” tulisku meski agak sedikit ragu.

“Tentu saja boleh, Pak Guru. Memang Pak Guru mau menyatakan apa?” jawabnya lugu.

“Pak Guru benar-benar tergoda olehmu, Koyati,” tulisku kemudian.

“Ah, Pak Guru. Koyati tidak bermaksud menggoda Pak Guru kok!”

Aku tak segera melanjutkan tulisan WA-ku. Terus terang, aku agak bingung harus menulis apa lagi. Namun setelah kupertimbangkan masak-masak, maka dengan rasa percaya diri aku menulis kata-kata berikut ini.

“Pak Guru benar-benar mencintaimu, Koyati?”

“Pak Guru mencintai Koyati? Yang benar saja, Pak Guru!” tulisnya.

“Sungguh, Koyati! Pak Guru benar-benar mencintaimu,” tulisku tanpa ragu sedikitpun.

Koyati tak segera membalas WA-ku. Padahal kulihat dia telah membacanya. Apakah ia sedang ada urusan lain di rumahnya? Atau mungkin ia bingung untuk membalas WA-ku? Karena, bisa jadi apa yang aku tulis tadi merupakan hal pertama yang ia terima dari seorang laki-laki. Namun sekitar lima belas menit kemudian, ia pun membalas WA-ku.

“Terima kasih telah mencintaiku, Pak Guru!”

Hatiku benar-benar berbunga-bunga membaca WA-nya. Ternyata perhitunganku tidak meleset. Dengan statusku sebagai guru PNS, ditambah dengan tampangku yang cukup tampan, ternyata Koyati mau menerima cintaku. Aku pun kemudian ingin menuliskan ucapan terima kasihku kepadanya karena telah mengucapkan terima kasih kepadaku. Namun keinginanku itu terpaksa aku urungkan, setelah aku membaca kiriman WA berikut darinya.

“Tapi mohon maaf, Pak Guru. Dengan jujur Koyati harus mengatakan, bahwa Koyati tidak bisa menerima cinta Pak Guru.”

Tubuhku langsung gemetar. Jantungku pun berdebar-debar. Hp yang kupegang, nyaris jatuh dari genggamanku. Dengan menahan malu dan kesedihan, kutanyakan apa alasannya menolak cintaku. Koyati pun langsung memberikan jawaban yang membuatku pilu.

“Koyati tak bisa menerima cinta Pak Guru karena dua alasan. Pertama, karena Pak Guru terlalu tampan. Kadua, karena Pak Guru mudah tergoda perempuan. Dengan ketampanan Pak Guru, tentu akan banyak perempuan yang menyukai Pak Guru. Hal itu tentu akan bisa menyiksa hati Koyati, karena senantisa akan dibakar api cemburu. Kemudian dengan mudahnya Pak Guru tergoda perempuan, Koyati khawatir nantinya Pak Guru akan mudah berpaling dari Koyati. Di saat Koyati sudah menjadi kurang cantik, di sekolah Pak Guru akan selalu digoda oleh murid-murid Pak Guru yang masih belia. Akan seperti apa rasa hati Koyati nantinya?”

Hampir saja aku pingsan membaca WA-nya. Setelah hatiku sempat berbunga-bunga, akhirnya kini harus merana. Sekarang aku menjadi tahu, bahwa ternyata kata “terima kasih” bisa pula berarti “tidak mau”. Aku benar-benar lesu, dan tak bisa membayangkan bagaimana rasanya menanggung rasa malu, saat besok bertemu dengannya.*

Purbalingga, 13 Februari 2018.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Kasihan pak guru ....tapi pada kenyataannya ada yang seperti itu nggih pak?

13 Feb
Balas

Mungkin ada juga, ya Bu?

14 Feb

Resiko guru tampak Pak ....

13 Feb
Balas

Ya, begitulah Pak.

14 Feb

Nasib Pak guru yang ngganteng. Baarokallah...Pak.

13 Feb
Balas

Nasib tokoh cerpennya sdg apes melulu, ya Bu?

14 Feb

Bukan pengalaman pribadi nggih, Pak? Hehehe

15 Feb
Balas

Bukan, Pak. Cuma imajinasi saya kok.

15 Feb

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali