Edi Prasetyo

Tinggal di Purbalingga, Jawa Tengah. Lulusan IKIP Yogyakarta jurusan PMP-KN. Saat ini bertugas sebagai Kepala SMA Negeri 1 Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah....

Selengkapnya

Tetes Air Mata Terakhir

Wanita tua itu masih saja duduk termangu. Semalaman telah ia kuras air matanya. Matanya yang sembab, masih terus memandangi halaman rumahnya. Ia sangat berharap akan segera melihat langkah kaki orang yang sudah sangat ia nantikan kedatangannya.

"Sejak awal bulan Ramadan, kamu sudah mengabarkan kepada emak kalau pada tanggal 25 Ramadan kamu akan pulang, Rustam," kata wanita tua itu dalam diam. "Tapi sekarang sudah menjelang tanggal 29 Ramadan kamu belum juga pulang. Kabar darimu pun tak kunjung kudengar. Apa memang tak ada waktu sama sekali bagimu untuk menelpon emak, Rustam? Ada apa sebenarnya denganmu, Nak? Mana bukti kerinduanmu pada emak yang sering kamu katakan itu? Apakah rindumu pada emak yang sering kamu katakan itu memang hanya sebatas kata-kata?" wanita tua itu mulai menangis lagi.

Sambil menangis, Mbok Minem, wanita tua itu masih saja memikirkan anak laki-laki semata wayangnya yang belum kunjung pulang. Padahal, sesuai yang telah dijanjikannya, seharusnya Rustam yang bekerja di Jakarta itu sudah berada di rumah. Seharusnya Mbok Minem telah bisa memeluk anak yang sangat disayanginya itu. Telah pula bisa membuatkan kopi panas dan tempe mendoan kesukaannya sambil bercengkerama. Tapi, apa yang diangankan Mbok Minem ternyata masih juga belum terwujud.

"Jika sampai malam takbir kamu tak juga pulang, mungkin tahun ini emak harus berlebaran tanpa dirimu lagi, Rustam. Tapi, apakah kamu akan setega itu membiarkan emak yang sudah tua begini berlebaran seorang diri?" tangis Mbok Minem semakin menjadi-jadi.

"Rustam! Aku memang sangat merindukan kedatanganmu. Karena kamu memang anakku. Tapi, aku juga tak ingin kerinduanku ini hanya akan menjadi kerinduan yang sia-sia. Kurasa air mataku sudah hampir habis, Rustam. Aku tak tahu lagi, setelah tangisku ini, apakah aku masih bisa meneteskan air mata lagi atau tidak. Bisa jadi, ini merupakan tetes air mata terakhirku, Rustam," kata Mbok Minem dalam diam seolah putus harapan.

Di saat Mbok Minem nyaris putus harapan, sayup-sayup ia mendengar suara sirine mobil ambulan. Semakin lama, suara sirine itu semakin jelas. Sesaat kemudian, mobil ambulan itu berhenti persis di depan rumah Mbok Minem. Mata wanita tua itu terbelalak. Seketika ia membayangkan hal buruk telah terjadi pada anaknya. Dalam sekejap, para tetanggamya telah mengerumuni mobil ambulan itu. Mbok Minem pun langsung berlari ke arah mobil ambulan itu sambil menjerit histeris.

Beberapa orang tetangganya langsung memapah Mbok Minem. Mereka tak menginginkan hal buruk terjadi pada wanita tua itu. Sambil berpegangan kuat pada tubuh dua orang yang memapahnya, mata wanita tua itu terus tak berkedip melihat ke arah pintu mobil sebelah kanan. Sesaat kemudian, pintu mobil ambulan dibuka. Seorang laki-laki yang mengemudikan mobil ambulan itu turun dan tersenyum ke arah Mbok Minem.

"Rustam!" seru Mbok Minem sambil berlari menubruk pengemudi mobil ambulan yang ternyata anak laki-lakinya yang sudah sangat ia nantikan kedatangannya itu. Namun sesaat kemudian Mbok Minem melepaskan pelukannya.

"Ada apa denganmu, Rustam? Mengapa kamu mengemudikan mobil ambulan? Bukankah selama ini kamu tidak pernah bercerita kepada emak kalau kamu menjadi sopir mobil ambulan?"

"Iya, Mak. Rustam memang bukan sopir mobil ambulan. Tapi karena ada jenazah yang harus diantar ke Purwokerto, sementara sopirnya sedang berhalangan, maka Rustam dimintai tolong oleh pihak rumah sakit untuk mengantarkan jenazah. Sebenarnya semula Rustam enggan menjalaninya, Mak. Namun setelah Rustam pikir-pikir, selain ini merupakan perbuatan sosial yang tak seharusnya Rustam tolak, juga sekaligus bisa digunakan untuk mudik gratis dan lancar dalam perjalanan, Mak," Rustam menjelaskan sambil tersenyum. Orang-orang yang mengerumuninya hampir semuanya menggelengkan kepala.

"Jadi, kamu baru saja mengantarkan jenazah, Rustam?" Mbok Minem tampak terkejut.

"Iya, Mak? Selain bisa mudik gratis, upahnya juga lumayan. Bisa untuk memberi THR untuk Emak," ujar Rustam meledek emaknya yang penakut.

"Hi....! Emak tidak mau kalau kamu beri THR dari upah mengantar jenazah, Rustam."

Rustam hanya tersenyum. Sesaat kemudian ia diminta mandi keramas oleh emaknya. Meski sangat rindu kepada anaknya, namun wanita tua itu tak mau duduk bersebelahan dan berbincang-bincang dengan orang yang baru saja mengantarkan jenazah.

Meski merasa agak takut dengan mobil ambulan yang diparkir di depan rumahnya, namun Mbok Minem merasa lega karena akhirnya ia bisa berlebaran dengan anak laki-laki kesayangannya. [*]

Purbalingga, 12 Juni 2018.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Kerinduan seorang emak pada anak laki-lakinya terbayar sudah, meski agak-agak takut...hehehe. Saya ngebayanginya juga Rustam kenapa-napa lho...pak. Alhamdulillah malah lancar mudik pake mobil ambulance. Salam sehat dan sukses selalu. Mohon ma'af lahir dan bathin. Barakallah.

12 Jun
Balas

Iya, Bu. Kasih sayang ibu terhadap anak tak ada habisnya, tapi kasih anak kepada ibu kadang bisa lain ceritanya. Saya pun mohon maaf lahir batin, Bu.

13 Jun

Pak Edi ada-ada saja..saya tidak membayangkan endingnya seperti ini...keren bapak

13 Jun
Balas

Hehehe... dikira Rustam yg diantar pakai ambulan ya, Bu? Kalau seperti itu, kasihan sekali Mbok Minem tentunya.

13 Jun

Ide kerinduan orangtua mendapatkan kunjungan putranya, terima kasih sudah mengingatkan pak

13 Jun
Balas

Iya, Pak. Begitulah kerinduan emak kepada anak. Bersyukurlah bagivyg masih memiliki emak/ibu.

13 Jun

Iya pak, emak saya sudah menghadap yang maha kuasa, saat meninggal beberapa menjelang hari raya idul fitri saat ramadan

13 Jun

Terus didoakan, Pak. Semoga almarhumah mendapat tempat yg layak di sisi-Nya.

13 Jun

Enak dan asyik aja mengikuti ceritanya. Bagus banget Pak, bikin baper.

13 Jun
Balas

Apa iya, Pak? Syukurlah, mudah2an cukup terhibur.

13 Jun

Hehe... Berkah hari raya

13 Jun
Balas

Iya, Bu. Emak jadi kebagian THR hehe...

13 Jun

Lega, akhirnya Rustam bisa mudik juga ...

13 Jun
Balas

Iya, Pak Omank. Biar naik ambulan yg penting hati bisa senang.

13 Jun

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali