Edi Prasetyo

Tinggal di Purbalingga, Jawa Tengah. Sejak masih kuliah di IKIP Yogyakarta gemar menulis. Pernah menjadi guru di SMAN 1 Sokaraja, Banyumas 18 tahun, KS SMAN 1 S...

Selengkapnya
Kesalahan Penggunaan Kata 'adalah'

Kesalahan Penggunaan Kata 'adalah'

Kita sering membaca, atau bahkan menulis kalimat-kalimat yang menggunakan kata 'adalah'. Misalnya saja kalimat: Guru adalah profesi mulia; Buku adalah jendela dunia; Menulis adalah kebutuhan guru; dan sebagainya.

Banyak di antara kita yang menganggap penggunaan kata 'adalah' pada kalimat-kalimat tersebut sudah benar. Benarkah demikian? Mari kita baca Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Menurut KBBI, kata 'adalah' memiliki tiga arti. Pertama, identik dengan. Kedua, sama maknanya dengan. Ketiga, termasuk dalam kelompok atau golongan.

Contoh kalimat yang menggunakan kata 'adalah' yang artinya 'identik dengan' misalnya Pancasila adalah falsafah bangsa Indonesia. Sementara contoh kalimat yang menggunakan kata 'adalah' yang artinya 'sama maknanya dengan' misalnya April adalah bulan keempat. Sedangkan contoh kalimat yang menggunakan kata 'adalah' yang artinya 'termasuk dalam kelompok atau golongan' misalnya Saya adalah penggemar Rhoma Irama.

Pada contoh kalimat pertama dan kedua, selain memiliki kepastian yang tak terbantahkan kebenarannya, letak kata maupun frasa yang di depan dan di belakang kata 'adalah' juga bisa ditukar tanpa mengubah makna. Siapa yang membantah kebenaran kalau Pancasila adalah falsafah bangsa Indonesia? Kemudian jika kalimat tersebut diubah menjadi Falsafah bangsa Indonesia adalah Pancasila, tetap sama maknanya bukan?

Begitu pula pada contoh kalimat kedua. Siapa yang akan membantah kebenarannya kalau April adalah bulan keempat? Kemudian jika kalimat tersebut diubah menjadi Bulan keempat adalah April, maknanya tetap sama saja bukan?

Kemudian pada contoh kalimat ketiga, sangat mudah dipahami bahwa penggemar Rhoma Irama tentu bukan hanya saya. Saya hanya merupakan bagian dari kelompok atau golongan orang penggemar Rhoma Irama.

Lantas bagaimana penggunaan kata 'adalah' pada contoh-contoh kalimat yang saya sebutkan pada paragraf pertama tadi? Apakah sudah benar? Mari kita uji.

Coba kita ubah dulu susunan kalimat-kalimat tersebut. Profesi mulia adalah guru; Jendela dunia adalah buku; dan Kebutuhan guru adalah menulis.

Menurut Anda, setelah kalimat-kalimat tersebut diubah susunannya menjadi seperti itu, apakah maknanya sama saja? Apakah yang merupakan profesi mulia hanya guru; jendela dunia hanya buku; dan kebutuhan guru hanya menulis? Tidak, bukan? Masih ada profesi mulia selain guru, misalnya dokter dan perawat. Masih ada jendela dunia selain buku, misalnya internet. Masih banyak kebutuhan guru selain menulis.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan kata 'adalah' pada kalimat-kalimat tersebut salah. Kalau begitu, kata apa yang lebih cocok digunakan untuk menggantikan kata 'adalah' pada contoh-contoh kalimat tersebut?

Kata 'merupakan' akan lebih cocok untuk menggantikannya. Coba saja kita rasakan jika contoh-contoh kalimat tersebut diubah menjadi Guru merupakan profesi mulia; Buku merupakan jendela dunia; dan Menulis merupakan kebutuhan guru.

Semoga tulisan ini ada manfaatnya. Salam literasi! [*]

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search