Edi Prasetyo

Tinggal di Purbalingga, Jawa Tengah. Sejak masih kuliah di IKIP Yogyakarta gemar menulis. Pernah menjadi guru di SMAN 1 Sokaraja, Banyumas 18 tahun, KS SMAN 1 S...

Selengkapnya

Penulis Karbitan

"Aku memang penulis karbitan seperti yang kamu katakan. Dari orang yang semula tak tahu apa pun tentang tulis-menulis, sebulan kemudian setelah kuikuti pelatihan menulis yang hanya berlangsung selama dua hari, aku berhasil menulis sebuah buku. Wajar bukan jika buku karyaku itu masih banyak kekurangannya?” kataku kesal sembari memelototi pria yang secara sinis telah mencibir buku karyaku. Pria kerempeng berambut gondrong itu terus saja mengatupkan bibirnya sembari memainkan jemari tangan kanannya di dagunya untuk mengejekku.

“Kalau kemudian aku merasa bangga karena telah mampu menulis buku ini, memang apa salahku? Kurasa, sedikit pun kamu tak punya hak untuk melarangku, bukan?” lanjutku sembari terus memelototinya. Kali ini kulihat pria berumur sekitar 50 tahun itu terkekeh-kekeh sembari menggeleng-gelengkan kepalanya seakan mengejekku. Karuan saja, sikapnya itu membuat darah mudaku mendidih.

“Baru bisa menulis satu buku yang tak jelas kualitasnya saja sudah sombong. Bagaimana jika nantinya kamu telah bisa menulis puluhan buku seperti diriku?” ujarnya sembari mencibirkan bibir dan memicingkan mata kirinya.

Aku benar-benar sudah tak tahan melihat sikap pria menyebalkan itu. Darahku yang sudah mendidih membuat diriku tak lagi mampu mengendalikan diri. Seketika aku melompat ke arahnya lalu menjambak rambutnya yang gondrong dengan tangan kiriku. Sementara telapak tanganku yang kanan sudah aku kepalkan dan telah siap untuk menghancurkan kepalanya. Sesaat kemudian aku arahkan tinjuku ke wajahnya. Namun belum sampai kepalan tangan kananku mendarat di wajahnya, kurasakan ada tangan kekar yang mencengkeram lenganku untuk mencegah tindakanku.

“Untuk apa kamu melakukan ini, Basir? Tak perlu kamu melayani kata-kata dan sikapnya. Biarkan saja dia ngomong dan bersikap sesukanya. Yang harus kamu lakukan bukan memukulnya dengan kepalan tinjumu. Teruslah kamu belajar untuk meningkatkan kualitas tulisanmu. Tulislah buku berkualitas sebanyak-banyaknya. Hal itulah yang nantinya akan mampu membungkam mulutnya.” Kudengar suara penuh wibawa dari orang yang tengah mencengkeram lenganku. Secara perlahan kemudian aku lepaskan jambakanku pada rambut pria kerempeng itu.

Sesaat setelah aku lepaskan jambakanku, pria berambut gondrong itu kemudian melangkah pergi meninggalkanku sembari terus memandangiku dengan pandangan sinis untuk memancing emosiku. Namun seperti nasihat laki-laki yang mencengkeram lenganku, aku tak lagi menghiraukannya. [*]

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search